Laman

Kamis, 19 Mei 2016

Petang di bulan kedua.

Rindu.
Malamku pekat, tanpa kelip bintang.
Apalagi senandung sedih.

Gelap, ku raba kamu.
Sambil berlinang disudut eyelinerku.
Habis mascara menggantung.
Pudar setapak taman,
imajiku terus raba kamu.

Heels dikiri, dan ponsel dikanan.
Sebenarnya telfon terus mencoba mengarah ke kamu, tanpa sadarku.

Tapi

Kau sudah pergi,
Bahkan tanpa pernah ku ucap selamat datang.

Rabu, 18 Mei 2016

Do'a

Untuk tersayang,
Dalam mili detik bukankah kita selalu berdoa? Untuk bersama sampai tak ada sekat antara si petang dan si pagi? Bersama napas, doa itu terus merajuk manja. Dilumat satu kata, seperti 'Cinta' yang ramai di agungkan sang Punjangga, pun kita, hingga tahun keempat ini. Aku fikir, ah umurku masih lima belas pertama dekapmu. Terlalu jauh Tuhan anggukan kepala pada doa kita.

Akupun di enam belas.
Masih dengan doa yang sama, melakukan dosa pada orang yang sama, pula.

Akupun di tujuh belas.
Tuhanku makin dekat. Sebelum napas selesai kuhirup, doa mengiring dua kali. Jelas lebih banyak dibanding tahun-tahun lalu. Dengan orang yang sama, lagi dan lagi. Kami yakin si Cinta tak akan kemana.

Aku beranjak delapan belas.
Poniku masih sama seperti pertama kita dekap, miringnya masih ke kanan. Kulitku masih kumal dan bau ku sekedar bedak bayi. Sambil berdoa, sambil kadang Cinta melayang dengan Ragu merangkak. Sulit rasanya.

Aku di sembilan belas.
Ku pikir, kita hanya tinggal duduk manis saja sampai Tuhan meng-iyakan doaku, doamu. Tapi di dua puluhmu, kita gagal. Ragu jadi yang paling ramai dipuja Pujangga. Rindu yang terlatih menjadi juara, malah tak terlihat. Di sembilan belasku, lupa aku berdoa lagi. Mungkin jua kamu. Tapi masa bodoh. Kita menjadi terurai dan lama tak bertatap.
Aku masih di sembilan belas,
Ketika sepi suka remas-remas logika. Dan cinta paling mengerti, lantunkan lagu tentang Cinta. Sejujurnya hanya satu nama. Tapi logika menolak keras. Tak ada ruang perbincangkan nama yang dulu sering buatku tertawa, gambarkan aku bahagia, sampai aku lupa rasanya perih.
Kamu namanya, waz.
Lagunya makin keras, waz. Yang kukira tak ada ruang, nyatanya seluruh relungku, bernamamu.

Kini, tahun ini, aku dua puluh.
Yang lagi-lagi merintih seorang hamba dengan doanya. Permohonan yang merintih minta digenapkan. Tapi tak jenuh, tuhan, kami candu. Candu seperti pemabuk yang terus melupakanmu. Tapi kami, selalu percaya dan yakin sepenuhnya. Tuhan mungkin tertidur, kalau ia lelah--sepertinya--. Tapi Tuhan kini terbangun dan anggukan kepalanya.


Tuhan anggukan kepalanya. Di dua puluh tahunku. Mungkin waktunya sebentar lagi, sayang. Kita bisa menunggunya dengan mantap. Mungkin di dua pulu satu. (kini waktunya kita mengamini. Semoga masih denganmu)

Rabu, 11 Mei 2016

Pun denganmu

Aku hilang, sayang
Degupku
Ingatanku
Seperti perantau rindukan pulang

Pun aku,
Yang bersandar lagi di dadamu
Sambil meringkuk
Tak ingin lagi memisah,
dengan jarak,
dengan waktu,
pun denganmu