Laman

Jumat, 05 Oktober 2012

Goresan tentangmu

Aku merengkuh rindu rapuh sambil meringis dengan getir
Ada resah mengaum dalam gema
Aku menangis riuh memandang duka
yang teriris, mengelupas kulit ari paling luar
sampai kemerahan amis memeluk erat tanda tanya
Aku teriak keras-keras meminang luka
diruang bergema yang memantul lagi teriakku
Mengapa penderitaan musti kau pinang?
Mengapa aku harus bertekuk lutut pada cinta yang menahan tawa?
Padahal kamu yang disana bisa runtuhkan ego dan cumbui aku sampai tua.
Ah, aku ungkit kamu lagi yang menghitam--menggelap serupa bayang yang mengkerdil, menjauh--
Aku mengeruk lagi pedulimu yang terkubur diinti bumi
dengan kuku dan damba kembalimu
Jangan suruh aku berhenti dengan pelupuk menghitam.
Jangan suruh aku menyerah dan menyatu dengan galianku,
Karna aku tak perduli!

Ganti dia

Aku melihatmu yang lagi melihatnya
Dia yang lagi tersenyum melirikmu sambil memutar tubuh semampainya,
rambutnya panjangnya tersibak, menyatu dengan angin.
Aku yang runtuh, lalu menunduk--merujuk pada perih--
Perih yang vakum lama tapi ada lagi ketika bersatu ruangan dengan kamu dan dia.
Kenapa masih selalu dia yang memarut habis hatimu dengan rindu, dan cinta?
Kenapa tetap dia yang kamu ajak bercumbu dengan kenangan?
Selama apa bersamamu yang harus aku butuhkan untuk bisa ganti dia?

Minggu, 23 September 2012

Aku lelah

Kamu sudah teralu lama disini, sayang
Kamu sudah teralu tua menggebu disini
Aku sudah teralu lelah merasa berdetak lebih cepat saat tubuhmu mendekat
Aku sudah teralu lelah mengekorkan pandang ketika engkau melintas dengan dia
Entah dia yang bertubuh bak model
atau dia yang memiliki mata bulat, coklat

Maih terus maukah kamu cumbui aku dimalam-malam dingin?
Masih terus berhasilkah kamu godai aku di atmosfer bersamamu?

Aku lelah...
Aku menyerah dibuntuti oleh perasaan kepadamu....
Aku menyerah terus hidup bersama kata-kata manismu, dulu

Izinkan aku berhasil memakamkanmu.
Memakamkan tiap-tiap butir rindu
yang coba memapah, mendayu, menyapu

Mendekap berjauhan

Aku terbentuk curiga atas nama ragu
Ada seorang hawa mendekatimu lalu merangkulmu
Kalian bertatapan, lama dan dalam.

Dia mengulum bibirmu seperti aku mengulum bibirmu dengan kasih
Andai kamu tahu apa yang aku rasakan
dan aku simpan baik-baik di ulu agar tidak menganga...
Andai kamu tahu apa yang aku coba samarkan
dalam tiap sosor sorot sayuku.

Aku ingin dekapmu----seperti kita dekap kamu dekap aku, kemarin.

Selasa, 11 September 2012

Aku berhenti di kamu. #FF2in1

Aku membuka kotak yang aku lapis dengan kertas kado berwarna cerah. Membuka lagi kennagan yang tiba-tiba meletup-letup liar ke permukaan. Mukaku memerah. Tapi entah untuk apapun aku tak tahu. Semua rasnaya sulit sekarang. Aku berharap dia ada disini. Mengharapkan dia kembali lagi mengisi. Tapi bahkan aku tak tau apa yang perlu lagi ia isi. Cinta yang kosong? Atau sakit hati yang hampa? Entahlah...aku selalu ada didalam kegamangan saat mengingat tentangnya.
"Dulu kamu disini, mandikan aku dengan tawa lepas tiap bersamamu." kataku lirih kepada bagian dari kotak kenangan itu. Aku bahkan merasa hambar lagi semua tentang aku dan masa lalu. Aku selalu mengizinkan yang baru untuk singgah di persinggahanmu, nikmati paket spesial yang hatiku tawarkan. Tapi belum sempat mereka masuk, kamu selalu dekati aku lagi. Tarik aku untuk bernostalgia dan membawaku untuk menemui hal fana yang tak akan terjadi; merangkai masalalu lagi. Ah kau tak tahu betapa besarnya gejolak yang terasa  saat kau datang lagi kerumahku dengan senyum saat salam dan ramah saat cium tangan Ibu. Kamu tak akan tahu! Kamu bilang "Andai kamu kembali, mungkin jelas kita akan lebih baik dari ini semua" Aku menunduk binggung. Aku linglung bagai debu yang terbakar. Aku mau. Persilahkan aku...aku mohon. Tapi aku tak bisa. Entah untuk apa-kan? Aku tak tahu... Yang perlu aku tahu, tak ada lagi yang bisa bersinggah disini, dihatiku. Aku tak bisa mencari. Tapi aku sudah bilang-kan? Aku tak bisa kembali karena aku tak tahu apa yang aku lakukan dengan sosokmu disisi dan pahit dihati. Aku berhenti dikamu. Berhenti entah sampai kapan.......

Selasa, 28 Agustus 2012

Harus adakah pilihan?

Kau tanya aku berulang kali. Kemana aku saat waktu butuhmu. Aku tak tahu menau.
Aku hanya pergi sebentar saat petang untuk gerai lagi lipatan-lipatan manis berkenangan indah.
Kau tak akan tahu rasanya ---berada didua hati--- yang susah mengurai.
Aku ingin memantul seperti sifat cahaya. Terpantul disatu hati tanpa perlu kau bertanya-tanya untuk apa aku sampai disana. Aku lelah memilih. Aku sibuk mengikhlaskan nyatanya yang ada hanya buaian.
Buaian tentang dialog hati dengan keegoan.
Sayang mereka sama-sama tak bijak untuk menentukan, sama seperti aku.
Aku harus salahkan siapa atas kegamangan ini, Tuhan?
Kenapa pilihan yang kau beri  terasa sangat menyakitkan?
Aku ingin indah sekang. Bukan pada waktunya. Lagipula, kapan waktunya?
Nanti? Ah. Omong kosong! Fana! Maya!
Harus aku mati dulu baru kau tahu rasa kehilanganku?
Atau aku harus bunuh salah satu dari sosok kalian yang mengisi kegamanganku agar aku terbebas dari belenggu satu kata --pilihan--?
Haruskah aku memilih satu?
Dia atau kau?
Entah. Biarkan aku bagi waktu Fajarku untuk kau dan petangku untuk dia.
Jangan tanyai aku. Jangan buat aku kehilangan (lagi).

Bunuh aku

Aku----yang menahan tubuhku agar tidak limbung saat sosokmu mendekat
Aku----yang menyayukan sorotku saat melihat ragamu hadir
Aku----yang tanpa sengaja memiliki tempat untuk bertetes-tetes air diatas kantung mataku saat ada seorang menyebut namamu,
Tolong aku----
Aku yang makin menua dan tetap saja tak merelakanmu----
Aku yang menyimpulkan bibir kepada sobek demi sobekan masalalu bersamamu
Aku----yang tertancap busur didada dan belum juga sembuh
Aku----yang bernafas atas nama kembalimu
Dan aku yang terus berharap berdansa denganmu saat terlelap----
Tolong aku----
Bunuh aku----

Kau (tetap) didasar

Aku melihatmu bersamanya.
Dia, memboncengmu mesra saat melihat aku melintas.
Kau, tersenyum seperti isyaratkan "Hai" dengan sangat sempurna.
Membuat letupan-letupan luka terlintas----seperti air yang mendadak matang.
Seharusnya perih itu hari ini menghambar.
Seharusnya hari ini aku juga berpapasan denganmu dengan seseorang memboncengku.
Lalu aku isyaratkan kata "Ini aku tanpamu" sambil tersenyum menyapamu.
Bahkan tadi aku tak mempu melakukan apa-apa, sayang....
Namamu masih tergembok sangat baik didasar.

Rabu, 15 Agustus 2012

Bermain dengan setitik cinta

Apa kita akan terus seperti ini?
Bercumbu dengan ego dan harapan? Kita samakan arti kasih dengan kasih lainnya. Kita buang jauh-jauh kata berpisah, namun nyatanya kita tak luput darinya? Sayang, kenapa musti seperti ini? Girang dengan pasangan tapi malah mudah tersentuh dengan nafas lain. Sebenarnya ini untuk apa? Untuk apa kau terus temani aku nyatanya yang aku fikirkan keadaannya ditengah malam adalah bukan kau? Lalu untuk apa tadi siang kita tertawa lepas? Untuk apa tadi siang aku terlelap nyaman dibahumu lalu bahagian dengan kecupmu? Apa kau juga merasa dilema yang sama? Kita dulu satu, sayaang. Kenapa jadi begini? Bermain-main dengan setitik cinta.

Sabtu, 07 Juli 2012

Rumahku, hatimu.

Aku, masih disini bukan karena aku menunggu aku kaya akan rayuanmu.
Aku disini bukan karena aku menunggu hati yang lebih baik untuk aku singgahi lalu meninggalkanmu.
Aku disini bukan lagi-lagi karena aku menunggu janjimu.
Aku disini karena uluku membiru tiap waktu merindukanmu.
Aku sibuk mencintaimu lebih, lebih, lebih, lebih, dan lebih dari lebih.
Kamu?
Kamu masih disini bukan karena sesuatu di balik lapisan kainku kan?
Kamu disini bukan karena lembut suaraku kan?
Bahkan saat nanti ada yang datang dengan balutan sutera pendek dan rambut coklat digerai, kau tetap pilih aku jadi yang paling indahkan?
Saat nanti atau lain waktu aku tak bisa lagi temani kamu lewati jalanan ini habis hujan, kau tak akan ajak peri lainkan?
Saat nanti, jauh hari cintaku membludag, mengguyur permukaan dan banjiri semesta, kau akan temaniku berendam didalamnyakan?
Rumah ini tetap milikkukan?
Rumah ini tetap punyakukan?
Rumah ini atas namakukan?
Rumahku, hatimu. Sudah aku pesan sejak sore kemarin sampai 1000 tahun lagi.

Minggu, 01 Juli 2012

Lakukan apa saja..

Entah untuk apa lagi aku disini.
Dengan luka bersimbah, bercucuran.
Mengalir ke alas, sampai tanah.
Terimakasih sudah izinkan aku menjagamu.
Entah sebut aku siapa saja yang kau mau sampai pilumu hambar.
Biar aku duka tapi kau suka, kau tertawa.
Tertawa dengan tawa yang ku suka.
Yang aku berdoa agar aku bisa mengawetkannya, mungkin sampai saat kau tak lagi suguhkan pundakmu untuk lelap terindahku.

Yang bangun tepat dan terlambat

Aku tersenyum,
lalu aku lemah setelahnya.
Aku menggapai,
lalu aku jatuh setelahnya.
Aku terbaring. Menatap satu persatu bintang.
Mereka serasa tak pernah akur.
Siapa yang bangun lebih senja, dialah yg paling bersinar. Seperti masa lalu.
Siapa yang datang paling petang, dialah yang paling buram. Sinarnya redup. Tak bersinar seperti masa depan.
Mungkin...itulah hukum alam. Syarat kehidupan. Sebab kelahiran.
Yang paling bersinar tertinggal dibelakang. Datang lebih awal dari realita. Hidupnya kekal karena terkenang. Bentuknya nyata. Baru tertunduk, ada saja godaan untuk menatap lagi. Masa lalu.
Yang redup berada didepan. Bangunnya telat. Hidupnya buram. Bentuknya maya. Tak teraba. Tak terfikirkan. Butuh mendongak beramat-amat sampai bisa menemuinya. Masa depan.
Ya. Kadang masa lalu memang lebih bersinar dari pada masa depan yang masih remang jalannya.

Selasa, 19 Juni 2012

Untuk pengisi 232 hariku (190612)

Kau tahu mengapa tadi aku mengantupkan lagi bibirku saat kau telah menengok kearahku? Aku...takut aku terluka mendengar jawabmu. Aku takut tergores akibat janjimu. Biar aku tak dengar pernyataan dari lubukmu. Biar semua menggantung terbengkalai dengan senyum disudut garis bibirmu.
Yang terpenting semalam, dibawah rembulan yang menggantung aku ucap aku mencintaimu setulusnya. Aku ucap tiada lagi hati yang patut aku tangisi bahkan saat kau berkilo-kilo jauhnya dengan tempat pijakku. Sudah, cukup dengarkan saja barisan lubukku. Jangan coba menjawab. Jangan sekalipun berani kau menjawabnya. Aku takut jawabannya itu tak pernah sedetikpun kau rasakan seperti yang aku rasakan.
Waz, jangan memupuk janji beribu sampai janji itu bertunas dan berbuah sebelum kau membuktikannya. Waz, jangan bilang kau merasakan apa yang ku rasakan saat fajar tapi petang kau bilang aku teralu baik untukmu. Waz, jangan ajari aku cara mencintamu tapi suatu saat kau ajari aku cara terbaik melupakanmu.

Sabtu, 19 Mei 2012

Untuk hati yang kubawa entah kemana saja

3:27.
Dan aku masih terjaga seperti bulu yang terkutuk.
Seperti kerdil yang tertunduk menyembunyikan wajah dan duka.
Seperti Semut yang berjalan mundur sambil membopong kedelapan anaknya.
Aku menggebu atas nama pilu.
Aku ngilu ingat kita tempo hari.
Semua indah. Tak terfikir bahkan hari ini terjadi.
Maaf, untuk hati yang tiap malam aku persembahi karangan doa.
Maaf, untuk senyum yang selalu sejukkan terasku.
Kepada kau yang aku lukai,
Kepada kau yang malam ini kecewa berkatku,
Kepada kau yang selalu aku cintai,
Sayat aku saja kalau lukamu karenaku.
Bedah aku saja kalau goresanmu akibat pisauku.
Aku....tak mengapa atas namamu.

Sabtu, 05 Mei 2012

Besitan ketulusanmu dengannya

Aku linglung. Bagai kertas terbakar yang abunya entah kemana, tinggal bergantung pada angin yang membawanya. Aku baik-baik saja walau luka itu menganga lebar memperlihatkan nanah yang mulai menggumpal berlendir. Aku jelas tak mengapa! Percayalah. Lihatkan, senyum itu masih ada tadi pagi? Ya...itu artinya aku tak mengapa!
Aku entah merasa tak mengapa saat ada lagi wangimu dalam satu ruang hampa. Jangankan itu! Mendengar suara magismu memanggilku lewat telfon genggam saja sudah merasa bahwa aku terjauh dari luka. Dan sesungguhnya, setelah kau berlalu--terlintas, aku sangatlemah memandang langit. Tak usah petang! Fajar maupun senja saja tak ada tenaga. Yang terbayang adalah gumpalan awan membentuk namanya dan engkau. Ada saja. Tiap aku menunduk dan menatap langit lagi, ada lagi bayangan dirimu dan dia tertawa. Begitu terus berlanjut belakangan ini. Aku tak tahu apa yang asaku inginkan. Tapi ngilu ini terus ada tanpa mau berpindah kemana-mana.
Barusan, senja malang. Aku melihat seekor sorot matamu kearahku. Dengan datar, kau memalingkan mukamu dan berjalan makin jauh. Akupun ikut memalingkan. Barang kali kau tak melihatku dengan senyum dan lambaian. Aku acuh. Tapi beberapa menit setelahnya, jiwaku memaksa menengok kebelakang. Siapa tahu masih ada kau disana. Menyorot kearahku sambil memamerkan senjata terampuhmu, senyum.
Dan benar saja. Senyummu mengembang kearah seorang wanita jelita yang lebih sempurna dariku. Semua orang tahu itu. Dia jelita yang dicari pujangga cinta untuk inspirasi coret-coretannya. Jangan bandingkan aku dengannya! Aku jelas bukan apa-apa dibanding dia. Senyumnya....Ah! Senyumnya yang melemahkan tiap pandangan itu tertuju padamu.
Aku tak berkutik.
Dengan anggunnya dia sipitkan mata kecilnya dan mengulas garis bibir sangat menawan. Aku lihat dari jarak 20meter dari tempatku berdiri. Tapi aku rasakan debar yang jelas sama pasti dengan debarmu---debarnya.
Aku mengerti apa arti ketulusan. Aku memilikinya, dan kini aku tunjukan kepada seorang yang memberikan ketulusannya kepada hawa lain. Aku jelas tak mengapa. Kau lihatkan tadi pagi tak ada gurat sedikit didahiku? Itu artinya aku baik-baik saja. Aku tahu ketulusan apa yang selama ini kau selipkan padanya. Pada tiap ekor mata yang bergerak ulet mencari dirinya. Aku juga melihatnya. Aku mengerti gerak bola matamu. Aku tahu semuanya----bahkan sebelum kau memberitahunya. Maaf jika aku merasa luka itu menari-nari lagi. Tapi....Ya, silahkan lanjutkan. Aku bukan apa-apamu disini. Aku bukan sosok yang membuatmu mengekorkan pandangan dengan lantang saat kau bersama kekasihmu. Aku bukan sosok yang buat kau tersenyum dan berdebar dalam satu waktu setelah kau mengacuhkan kekasihmu. Itu bukan aku. Jadi silahkan lanjutkan menyusuuri masalalu indahmu, sebelum adanya aku disini.
Berjalan lagi kearahku saat kau telah menyadari bahwa kau membutuhkanku.
Aku menunggu, sungguh!!

Senin, 16 April 2012

Aku...tak tergantikan

Kadang rasa takut menghantuiku tersenyum padamu.
Aku takut sekarang masih bisa tersenyum dan nikmati balasannya tapi besok tidak.
Aku takut kamu pergi dan buat aku kehilangan sosok yang menggores cinta dihati.
Entahlah....aku selalu merasa tak puas tiap harinya mengasihimu.
Tiap pergantian malam, selalu saja ada yang kurang-kurang-kurang......
membuat aku membayang esok fajar tetap bisa nikmati candaan denganmu.
Tapi kalau nyatanya tidak?............
Mungkin ada lagi senyum bidadari indah yang lain, menggantikan senyumku.
Apa lagi perbandinganku dengan wanita-wanita teman mainmu, aku..........jauh tidak ada apa-apanya dibanding mereka.
Atau....mungkin cintamu tak lagi seperti kemarin.
Saat pungut bulu mata dipipiku. Saat tiup dengan kasih mata merahku yang perih. Saat tak lagi ada ucapan selamat tidur dengan kata-kata pasirmu. Saat tak ada lagi sapaan dibel jam mulai kelas. Saat tak lagi kamu mau sejajar barisan upacara denganku. Saat tak lagi kamu mau panggil namaku dengan tulus.
Kau pergi.
Sedang aku? Entah harus merengek---mengiba---sampai kau kembali.
Ah! Katakan pada dunia, kamu akan tetap disisiku sampai Everest mencair!
Katakan pada masa, aku bidadarimu sampai Himalaya rata dengan daratan.
Tolong......katakan pada matahari, Aku milikmu selamanya----tak tergantikan.

Sabtu, 07 April 2012

Tentang misi yg tertunda berhasil.

21:30 WIB.
Kawan, jangan dulu cari kemana aku sekarang.
Aku mau waktu memisahkan kita----dengan jarak seadanya----
Tolong jangan dulu panggil aku dengan sebutan seperti biasa,
jangan anggap aku kekasihmu dulu.
Itu masih teralu berat aku menyandangnya.
Aku harus berani menghalau asap yang berterbangan di dekatmu.
Aku harus menyekat ombaknya dunia dengan dirimu.
Kau tahu, aku berusaha.
Tapi seperti kemarin, aku gagal.
Untuk apa aku tetap disini-kan?
Ada untuk melihatmu disampingku
----tanpa bisa menjagamu (lagi)-----
Aku gagal.
Gagal lagi.

Kamis, 29 Maret 2012

Untuk adik tersayang

jangan kemana-mana, dik
aku akan membiru disini
menunggumu dewasa
seperti pesan si tua yang telah mati
hingga petang membawa,
lalu bnatu aku angkat tanah merah
bongkahan demi bongkahan
sampai tak terlihat senyumku
sampai habis masa jagaku

Rintik hujan

Rintik hujan
harum dan nafasnya
dulu ada kamu dibawahnya
merasakan tiap hujam
yang dikit mencubit kilutmu
Kau tetap disana
menanti aku rubah pikirku
tapi tetap saja sama
kau sia-sia

Cara mencintaimu

Aku mau mencintaimu tanpa syarat
Tak seperti hujan yang hadir karena mendung
Tak juga seperti es yang berhutang budi kepada air
Aku mau mencintaimu dengan rindu
Hanya itu

Gitar

Kau ajari aku cara petik gitarmu
nada yang benar jangan meleset katamu
suruh aku tetap memainkannya
sampai nanti waktunya berubah katamu
Tapi apa yang berubah kini?
nada dan gitarnya sama. Lalu?
pemainnya, Ya!
'pemilik' gitar itu berganti.
bukan lagi aku?
Oh, mungkin ini waktunya, kan?

siapa aku

Aku adalah perasaan
Yang membisu saat kau tampak
Dan yang meluap saat kau tandas

Biarkan dia lepas

Butakan aku terhadap rasa ini
aku tau hanya kau yang tahu caranya
menghambarkannya dan biarkan dia pergi jauh
Tolong lakukan itu
Terhadap aku yang terus membeku
menatapmu lagi
Aku bilang senyumannya tak akan berarti apa-apa.
Aku bilang, gempa kecil diperutku hanya lapar biasa.
Padahalaku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya, sepanjang waktu.
Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.
#coppy novel#

Kamis, 09 Februari 2012

Luka.

Aku melukai lagi diriku sendiri dengan asa yang aku buat sendiri. Aku tak menyalahkan adamu disini. Tapi entah mengapa mengingatmu aku luka. Bagai teriris dengan ingat tawamu. Kau tahu alasan aku mengaggumimu di awal karena tawaku-kan? Ya. Tapi sekarang tidak. Ingat tawamu malah berkelibat luka yang hadir. Sedih, dan aku menenggelamkan kepalaku sambil menitik air diujung mata. Sungguh sedih. Barusan saja aku lihat tawamu sangat hangat. Aku ingin lari memelukmu saat itu juga. Tapi entah... ada yang lain saat aku lihat sorot mata ditawa hangatmu itu. Kau...berhadapan dengan dia! Dia yang aku sangka telah sirna dimakan cinta padaku. Dia yang aku kira telah pergi dari persinggahanmu. Dan maafkan aku memergokimu merangkai lagi masa lalu yang belum tuntas. Maaf aku dulu hadir saat cerita kau dan dia yang belum usai. Maafkan aku atas hadirku. Itu semua karena kau yang mampu membuatku bertekuk litut memuja. Izinkan sekarang aku pergi kalau memang tempatku telah terisi (lagi) dengan seorang dia.

Jumat, 03 Februari 2012

'Aku-Kamu'

Aku mau jadi tongkat yang topang saat rapuhmu. agar kau tak berdebum menyentuh tanah, jelas. kau bisa genggam aku erat-erat dengan jemari lemahmu. kau bisa tekan aku sampai butiran pasir melubang. Jangan pergi........... aku bisa jadi serat hangat tissue yang menghapus lembut air di ujung kelopakmu. menangislah tersedu. akan aku hilangkan bekasnya. Kamu punya aku. seorang yang bisa kau bawa ke lelapmu. membuatmu tersenyum disana, tertawa disana. aku bisa juga buatkanmu hangat saat suhu se-es sekalipun. aku... bisa sediakan bahu untuk tempat kau melepas gundah sekalipun. aku bisa jadi..... pendengar cerita konyolmu. sungguh aku bisa jadi apa yang kau pinta. aku benar-benar akan selalu ada, ada menjaga tubuh tegapmu dari setetes gerimis sekalipun. makannya jangan bergerak selangkahpun menjauh. aku takut ada yang lebih hangat dariku.

Pantai

kapan lagi kita berjongkok memandang matahari yang mau terlelap?
diatas milyaran butir pasir.
di udara yang menggelitik
kau ambil derit ranting pinus di serong kanan belakangmu.
mematahkannya jadi dua dan satunya diberikan padaku.
'Tulis apa saja disini.' katamu menunjuk pasir yang melengket pada bumi.
'Entahlah. Kau mau aku tulis apa?' kataku sambil menyibak rambut yang telah menggulung basah.
'Biar aku yang nulis yaa.' Dan kau pamerkan deret gigi putihmu dan memalingkan muka.
menekuni pasir yang mulai melubang membentuk.
'AKU TUNGGU KAMU DISINI, 10TAHUN LAGI'
lalu kau menaruh derit kasar yang kau genggam. dan mencium dahiku.
lalu kau tarik pergelangan tangan kirimu.
lari-berpegangan. sambil tertawa renyah.
menantang air garam layaknya sang dewa.
Aku masih mengingatnya.

Sabtu, 07 Januari 2012

Tersanjung dengan sorot-sorotmu.
Terpana dengan detak yang tersedia
Persembahkan seucil geletar dengung dengan pana untuk depan mata
Pandangan lurus dan dapatlah tubuh terguncang tawa
Matanya disipitkan
Bibirnya menguap dikit
Suara dengung tingkat dewa menggema, hangat
Aku dengarnya hangat
Jangan biarkan aku beku akibat masa karena kau,
yang berjalan menjauh
Yaaaaaah....tetap disini sajalah
Jangan kemana-kemana ya
Aku masih mau bersibak debar yang mengganggu
Aku sedang jatuh cinta,
tiap waktu.