Laman

Selasa, 28 Agustus 2012

Harus adakah pilihan?

Kau tanya aku berulang kali. Kemana aku saat waktu butuhmu. Aku tak tahu menau.
Aku hanya pergi sebentar saat petang untuk gerai lagi lipatan-lipatan manis berkenangan indah.
Kau tak akan tahu rasanya ---berada didua hati--- yang susah mengurai.
Aku ingin memantul seperti sifat cahaya. Terpantul disatu hati tanpa perlu kau bertanya-tanya untuk apa aku sampai disana. Aku lelah memilih. Aku sibuk mengikhlaskan nyatanya yang ada hanya buaian.
Buaian tentang dialog hati dengan keegoan.
Sayang mereka sama-sama tak bijak untuk menentukan, sama seperti aku.
Aku harus salahkan siapa atas kegamangan ini, Tuhan?
Kenapa pilihan yang kau beri  terasa sangat menyakitkan?
Aku ingin indah sekang. Bukan pada waktunya. Lagipula, kapan waktunya?
Nanti? Ah. Omong kosong! Fana! Maya!
Harus aku mati dulu baru kau tahu rasa kehilanganku?
Atau aku harus bunuh salah satu dari sosok kalian yang mengisi kegamanganku agar aku terbebas dari belenggu satu kata --pilihan--?
Haruskah aku memilih satu?
Dia atau kau?
Entah. Biarkan aku bagi waktu Fajarku untuk kau dan petangku untuk dia.
Jangan tanyai aku. Jangan buat aku kehilangan (lagi).

Bunuh aku

Aku----yang menahan tubuhku agar tidak limbung saat sosokmu mendekat
Aku----yang menyayukan sorotku saat melihat ragamu hadir
Aku----yang tanpa sengaja memiliki tempat untuk bertetes-tetes air diatas kantung mataku saat ada seorang menyebut namamu,
Tolong aku----
Aku yang makin menua dan tetap saja tak merelakanmu----
Aku yang menyimpulkan bibir kepada sobek demi sobekan masalalu bersamamu
Aku----yang tertancap busur didada dan belum juga sembuh
Aku----yang bernafas atas nama kembalimu
Dan aku yang terus berharap berdansa denganmu saat terlelap----
Tolong aku----
Bunuh aku----

Kau (tetap) didasar

Aku melihatmu bersamanya.
Dia, memboncengmu mesra saat melihat aku melintas.
Kau, tersenyum seperti isyaratkan "Hai" dengan sangat sempurna.
Membuat letupan-letupan luka terlintas----seperti air yang mendadak matang.
Seharusnya perih itu hari ini menghambar.
Seharusnya hari ini aku juga berpapasan denganmu dengan seseorang memboncengku.
Lalu aku isyaratkan kata "Ini aku tanpamu" sambil tersenyum menyapamu.
Bahkan tadi aku tak mempu melakukan apa-apa, sayang....
Namamu masih tergembok sangat baik didasar.

Rabu, 15 Agustus 2012

Bermain dengan setitik cinta

Apa kita akan terus seperti ini?
Bercumbu dengan ego dan harapan? Kita samakan arti kasih dengan kasih lainnya. Kita buang jauh-jauh kata berpisah, namun nyatanya kita tak luput darinya? Sayang, kenapa musti seperti ini? Girang dengan pasangan tapi malah mudah tersentuh dengan nafas lain. Sebenarnya ini untuk apa? Untuk apa kau terus temani aku nyatanya yang aku fikirkan keadaannya ditengah malam adalah bukan kau? Lalu untuk apa tadi siang kita tertawa lepas? Untuk apa tadi siang aku terlelap nyaman dibahumu lalu bahagian dengan kecupmu? Apa kau juga merasa dilema yang sama? Kita dulu satu, sayaang. Kenapa jadi begini? Bermain-main dengan setitik cinta.