Laman

Senin, 19 Desember 2011

Kau tau?
Kapan aku lebih rapuh dari ujung bulu matamu sekalipun?
Saat aku harus dihadapkan dengan hawa
yang pernah walau sedetik dihatimu.
yang pernah membawamu masuki tamannya
Kau yang pernah penuhi ruangannya tanpa tersisa sejengkalpun tempat bagi yang lain.
dan aku? lalat.
pengganggu tawa riang kalian.
maaf aku buta tentang itu. aku tak sadar kalian bercumbu merayu dan aku datang.
tapi fajarmu kini denganku.
seharusnya kau sadar itu.
jangan lagi saat mengangis kau cari dirinya untuk meminjam bahunya, ada bahuku.
aku mohon.
aku-disini-terlanjur-mencintai-mu-tanpa-dirinya.
Jangan cintai aku.
Aku tak punya apa untuk membalasnya.
Hanya disampingmu saat gerimis kecil.
Dan temani sepimu malam-malam begini.
Aku bisa lakukan yang aku mampu
Aku bisa buatkan sarapan dan makan malammu.
Bisa menyuapi anak-anakmu dengan gandum.
Dan aku bisa memapah jalanmu saat renta nanti.
Itu kalau kita mampu.
Kalau saja kau mau,
denganku.

Sabtu, 17 Desember 2011

lebih rapuh

sore ini, biar saja aku menangis sekali atas namamu.
setelah itu tidak. aku berjanji akan menahan tiap tetes yang mencoba turun.
kau tahu mengapa aku rapuh lebih dari sehelai rambutmu?
aku takut.
takut cintaku tak disana. takut sosoku ternyata tak sekalipun singgah disana.
takut akan waktu yang sebenarnya izinkan aku mendamba seorang yang tak pernah mendambaku.
aku takut kata yang kau ucapkan jelas tak benar adanya.
aku takut setumpuk harapan terus ada didepan pintumu,
tanpa berani tutur sapa hendak memenuhi sedikit ruangannya.
aku takuuut, suatu saat lebih rapuh dari ini. lebih rapuh pula dari sayap bayi kupu-kupu.

Minggu, 27 November 2011

Demi-Mu (part I)

Aku pernah merasa sendiri seperti ini. Lampau sekali, aku tak mampu mengingat kapan waktunya. Tapi aku jelas pernah merasa seperti ini. Sejak kecil aku benci keramaian, benci udara yang menggelitik yang membuatku beku dan butuh penghangat. Aku selalu suka tempat sepi yang hangat, dan hanya ada aku disana. Sesepi apapun tempat yang ku singgahi, aku selalu merasa seseorang dekat denganku. Entah Tuhan, Ayah, atau Ibu. Aku juga suka ditinggal sendiri, lama. Sendiri membuat aku merangkai berentet-rentet angan yang sebentar ada didepan mata. Dan aku tak akan pernah jenuh melakukannya. Bermain dengan mimpi di dunia nyata. Mendamba setumpuk pucuk per pucuk kecil yang tak pernah menghasilkan gurat dikulit keningku. Aku suka sendiri, berangan didalam hangat.
Kau tahu aku sangat membenci luka segarispun kepada Ibu? Aku benci ada kecewa setitik yang membayang di lelapnya. Aku benci siapapun makhluk yang coba mengusik langkahnya. Aku sangat menyayangi Ibu. Entah kapan aku berani membisikan kalimat itu didepan Ibu. Aku malu. Aku gengsi. Aku benci ada yang mengusiknya, padahal akulah yang mengusiknya dari 15 tahun lalu. Saat tangiskulah yang menggangu istirahat petangnya. Saat muntahankulah yang mengotori bajunya. Dan yang paling kuingat, saat kebohongan demi kebohongan meluncur saja, atas nama 'aku sudah dewasa' atau 'aku ingin seperti teman-temanku'. Ya, Aku merasa dewasa. Aku merasa bisa menjaga diriku dari setetes hujan sekalipun. Dan... Aku menyesal atas itu.
***
Aku melihat Ibu, merebahkan kepalanya diatas meja. Make-upnya berantakan. Kantung matanya membesar, membiru, dan jatuh. Aku tak tahu percis apa yang membuatnya selemah itu. Beliau jarang cerita tentang dirinya dan apa yang Ia rasakan. Aku mengelus pundaknya pelan. Tak ada respon apapun. Mungkin beliau kurang istirahat belakangan ini. Menjaga seorang diri yang berbaring di atas kasur putih. Dia tertidur dari siang. Saat teman, kekasih dan keluarga besarnya berada disini. Dan sampai mereka kembalipun, dia masih tertidur. Tak bergerak sedikitpun. Aku juga binggung kenapa dia sampai selelap itu ditidurnya. Tubuhnya banyak dimasuki selang. Dia keliatan lemas. Aku tahu dia bosan tidur, tapi aku tak berani membangunkannya. Jadilah dari siang aku mengamati pergerakannya. Nyatanya nihil. Kau tahu? Dia mirip sekali dengan aku!
Pagi ini aku hanya ingin susu hangat yang biasa Ibu buatkan. Tapi ibu malah tetap menjaga seorang mirip aku itu sambil meneteskan air dari matanya yang merah. Dari kemarin siang, Aku tak sedikitpun merasa lelah, lapar, ataupun mengantuk sedikitpun. Aku bisa terus melebarkan mataku tanpa perih sedikitpun disekitar bolanya. Aku mendekat disebelah Ibu. Membungkuk sedikit dan mengamati seorang yang aku kira ini kembaranku. Dia benar-benar menjaga dirinya. Tak bergerak sesentipun dari awal Dia terlelap. Aku curiga dia tak mampu membuka matanya. Padahal aku benar-benar ingin tahu dia siapa, dan sungguh aku ingin membunuhnya selesai kami berjabat tangan karena membuat Ibu selemah ini. Dan, akupun duduk lagi disofa panjang di depan jendela besar. Kamar rawat ini sungguh membosankan. Hanya tersedia sofa panjang, dua buah kursi, meja panjang, dan kamar mandi. Lampunya ada lampu baca kuning yang sangat menyilaukan. Ibu baru saja mematikannya, dan membuka gorden selebar-lebarnya. Membuat fajar terasa sangat kental diruangan pikuk ini. Sekarang jam 11 pagi. Ibu terus saja duduk dikursi disebelah kasur setelah kegiatan kecil yang beliau lakukan. Tadi beliau membasuh mukanya dan duduk lagi. Lalu beliau mengecilkan suhu AC, menyelimuti 'kembaranku' dan duduk lagi. Dan baru saja beliau minum seteleguk air putih dan duduk lagi. Duduk, diam, dan menangis. Hal itu membuat aku mengurungkan niatku untuk menyapanya pagi ini. 
Sekarang jam 13.00, Aku masih duduk di sofa. Sedikit risih dengan orang-orang yang sangat ramai diruangan ini. Ada bapak-bapak berumur setengah abad memakai kaca mata. Banyak anak seumuranku memakai seragam rapih. Dan ada seorang laki-laki berumur lebih muda daripada laki-laki berkaca mata sebelumnya. Beliau mirip dengan 'kembaranku' dan tentu saja aku. Mereka semua siapa akupun tidak tahu tapi jelas, aku pernah melihat mereka. Entah kapan. Tapi sungguh, aku pernah merasa berbincang dengan mereka satu persatu. Mereka diam, memandang ‘kembaran’ku dengan raut yang sangat menyedihkan. Aku lihat beberapa dari mereka meneteskan air mata dan berpeluk. Mereka menyebut nama ‘Shera...’ ‘Shera...’. Kedengarannya tak teralu asing. Aku kurang lebih pernah mendengar nama itu. Tapi aku tak ingat kapan dan dimana. Ahhhhhh sungguh, aku benci menjadi pelupa seperti ini. Aku masih mengamati raut mereka yang bersedih. Yang laki-laki masih tetap diruangan ini. Semua perempuan keluar sambil terisak. Ya, semua kecuali perempuan yang duduk disebelahku. Aku mau berkenalan dan menanyakan ada apa, tapi raut gelisahnya mengurungkan niatku. Aku bangkit. Berjalan sendiri keluar ruangan yang pikuk itu dan menuju ruang tunggu. Ternyata perempuan sebayaku yang keluar tadi sedang berkumpul disini. Jumlahnya ada 12 orang. Ada yang duduk, dan berdiri. Aku mendekati dua orang yang saling berpelukan erat. Sama-sama meneteskan air mata deras. Aku berdiri disamping mereka. Aku tak kuat lagi mengurungkan niat hanya untuk bertanya ada apa disini. Tapi lagi-lagi niatku terhenti. ‘Shera Cuma koma, Dis. Dia pasti bakal main lagi sama kita dan yang lainnya. Lagi juga dia tadi senyumkan. Lo liat kan?’ kata perempuan berkerudung. ‘Gue gak percaya Shera bakal sakit kayak gini Din. Gue sayang Shera.........’ jawab perempuan di pelukannya. Shera koma? Siapa dia? Dengan sedikit kesal, aku mendekati perempuan yang sedang berbincang lemas dengan seorang lelaki yang matanya juga bengkak. Aku berlaga sok cool berdiri percis disamping mereka. ‘gue tau Shera kuat Van. Jadi kita juga harus kuat buat dia. Lo harus nemuin dia sekarang, dia pasti nunggu lo Van.’ Suara cempreng dari perempuan yang dikuncir satu ini. ‘gue...... belum bisa. Shera pasti Cuma butuh istirahat dan dia gak bakal kemana-mana. Kita tunggu disini aja ya sampe dia sadar.’ Suara berat menjawab. ‘Van, Shera koma. Sehari. Itu gak cukup ngebuat lo mau nemuin dia setelah kemarin? Ajak Shera ngobrol apa aja yang mau lo ceritain. Tentang lo di sekolah, tentang temen-temen lo, tentang apa aja yang biasa kalian bicarain. Please Van’ suara cempreng itu berubah memelas. Ah! Seperti sinetron saja! Si lelaki bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ruangan ‘kembaran’ku. Aku membuntutinya dengan sangat hati-hati. Lelaki yang dipanggil Van itu langsung mendekati ‘kembaran’ku disisi kasur. Ibu, dan yang lainnya langsung menjauh, duduk di sofa panjang dan sebagian yang lain ada yang keluar termasuk laki-laki berkaca mata. Dengan cueknya aku berdiri disebelah lelaki dan membungkukan sedikit badanku. ‘Sher.’ Panggilnya. Tangannya mengengam tangan ‘kembaran’ku dan mengusapnya hati-hati. ‘Shera bangun gih. Udah siang. Kita sholat dzuhur dulu yuk.’ Hening. ‘Sher, cerita dong.’ Suaranya makin berat. ‘Ivan aja deh yang cerita ya.’ Masih hening. ‘hmm.. kemarin Ivan lomba futsal ngewakilin kelas. Kelas kita menang. Ivan masukin 4 goal dan Ivan jadi top score kalo digabung sama goal-goal kemarin.’ Lelaki itu namanya Ivan. Dan Ivan sekarang menitikan setetes air diujung matanya. Ivan mengelap air matanya. Melihat langit-langit kamar rawat kemudian menarik nafas panjang menatap lagi sosok didepan matanya. ‘tapi lomba kemarin ada yang kurang, Sher.’ Keluar lagi air dari ujung matanya, setetes. ‘Kurang Shera di pinggir lapangan. Kurang suara Shera neriakin Ivan. Kurang Shera ngelapin keringet Ivan. Kurang Shera, Sher. Kurang Shera.’ Air matanya tak terbendung lagi dan Ivan menangis dalam diam. Hatiku mencelos. Entah mengapa aku hangat. Aku merasa terhanyut tanpa air mata. Aku hangat. Hangat. Kemudian ‘kembaran’ku itu tersenyum. Tersenyum segaris lalu datar lagi. Ivan memanggil Ibu. Dan yang lainnya pun mendekati kasur. Mereka terlihat bahagia. Semenit, dua menit, tiga menit, sampai setengah jam. Tak ada lagi pergerakan dari ‘kembaran’ku. Ibu dan yang lainnya kembali menjauh. Duduk lagi di sofa panjang. Tertinggal aku dan Ivan disisi kasur. Ivan tersenyum lagi. ‘Sher, Ivan mau ngajak Shera kencan lagi. Kencan kita yang kedua. Hehe’ suaranya lemah beriringan dengan tangis bisu. ‘Tapi sekarang Ivan mau pulang dulu ya. Udah sore. Besok kita kencannya.’ Suaranya kembali berat. ‘Ivan pulang dulu’ Ivan tersenyum. ‘Inget, besok kita kencan. Pake baju yang rapih, dikuncir rambutnya, terus pake kacamatanya.’ Kata Ivan setengah terbata. ‘dadah Shera. Ivan pulang yaa. Ivan sayang Shera’ katanya terakhir sebelum bangkit dan keluar kamar rawat sambil menunduk, menangis. Perasaanku hangat. Mencelos lagi seperti kehilangan sosok yang baru saja beringsut menjauh. Sekarang aku tahu sesuatu. Tubuh lemah dikasur itu.................... Aku’

Minggu, 30 Oktober 2011

waktu

ini bukan cerita apa lagi
hanya waktu dan senja yang cepat berlalu
buat cerita berganti dengan sendirinya dan detik berganti meninggalkan yang lain
waktu.
ya! persetan dengan waktu dan pengikutnya
andai hujan mampu hapus menit yang takdapat berulang
dan Tuhan mampu rubah waktu datangku
iya, aku datang terlambat seperti dirinya
melupakan yang lalu dan bahagia sebahagia-bahagianya
waktu. iya sayangnya aku teralu cepat datang
menikmati senyummu seawal mungkin
dan kini...... tiada

Kamis, 27 Oktober 2011

Aku-Kamu

Bayangkan sekali sja
Jemariku ada diantara pelu dahimu
Mengusapnya lembut
Tak membiarkannya turun setetes
Lalu berawal dari sana,
Ucaplah lisanmu tak berani jauh dariku
Peluk aku meski jauh sosokku
Lalu rasamu terbang diatas senyumku
Detik itu, Izinkan garis bibirku buatmu jatuh dekapku
Tak lagi beri tawa ke hawa lain
Tak lagi hilang dibalik siulet lain
Hanya aku.
Dan sekarang kamu.
Aku-Kamu.

Jumat, 07 Oktober 2011

ingin merasa sepertimu

Teman, aku lelah terus menerus melemah akibat sikapmu. Kian hari kian candu menatap langkahmu yang menjauh-mendekat-lalu menjauh lagi. Dan sekarang kau berada ribuan mill dari tempat pijakku. Ribuan mill jauhnya jarak yang membatasi hati kita untuk bertemu, menyatu.
Kau tahu aku menggangumimu dan tak pernah sedetikpun jiwaku menjauh sepetak akibat ulahmu yang makin membeku terhadapku? Kau tahu aku bahkan (masih) tetap mendambamu walau kau jauh tidak lebih baik dari sebelum kau? Aku lakukan demi kata tulus yang amat sangat terhadap tangisku yang tumpah setetes karena candamu dengan wanita lagi. Aku belakangan berfikir untuk menjauhimu sejauh yang aku bisa. Kepakkan sayap membentang agar jauh aku terbang. Tinggalkan sosok kamu yang tetap saja tak perduli tersenyum 'menerima' aku. Tapi tetap saja, teman. Tetap saja. Sejauh aku berusaha terbang, sejauh itulah aku makin ingin menjaga sisimu. oh teman, candu macam apa ini? Yang buat aku terpaku lihat senyummu. Yang menganga tiap dengar kau tertawa. Yang hampir jatuh membungkuk saat menatap kau melintas dengan tegapnya. Rasa apa ini? Candu macam apa ini? Bolehkah aku merasakan apa yang kini kau rasakan sebelum engkau merubahnya makin kasar? Seperti..... tak merasa getar amat gemalu dan lelah menanti serangan serdadu hati. oh, aku ingin merasakan sepertimu agar tak hanyut seperti ini

harap itu.....

Hari ini,
entah perasaan apa lagi yang muncul.
Memuncah ke permukaan dan buatku bisu disisi pundakmu.
Aku harap hanya dua detik lalu biasa lagi.
Dan benar. Lalu terulang lagi saat tawamu terdengar.
Rasa seperti degup kencang yang memacu merah dipipiku.
Aku tahu ini apa.

Desir lagi seperti ombak memanah jantungku.
Kenapa saat ini begitu istimewa, Teman?
Saat pandangmu jatuh dipandangku.
Kau bungkam, tanpa senyum segaris malah.
Tapi aku haru. Kagum akan garis matamu.
Aku takut tumbang.
Lalu aku berpegang erat pada tiang-tiang kokohku.
Membisikan gendang sendiri tentang harapan.
Ya! Semua hanya harapan.
Memiikimu bagai menulis dibatu nisan.
Yang menipis akibat deras hujan.
Sebentar lagi binasa. menjadi kerikil kecil yang bersatu tanah merah.

Dan...
Aku tahu!
Harap itu......
Tidak akan pernah terjadi.

Sabtu, 24 September 2011

asa untukmu

seperti yang ku bilang
kau serupa dengannya.
dan itu bukan lagi alasan
mengapa sekarang aku melirikmu.
melirik,
tersenyum,
dan melompat girang saat punggungmu menjauh

berusaha mengenyahkanmu dari bunga tidurku.
takut asa itu berubah makin jadi
nyatanya?
NIHIL!
aku makin merindukan esok.
melirikmu lagi,
tersenyum lagi,
melompat lagi!
Dan aku cukup dewasa untuk tahu apa yang sedang aku rasakan!

kenapa bukan aku?

jangan tersenyum sambil melirikku
itu sangat menyakitkan.
membuat duka makin pekat

kau tahukah?
melihatmu tertawa adalah perih
mengapa bukan aku yang membuatnya?
mengapa bukan aku yang menikmatinya?
tak pantaskah?
teralu rendahkah?

siapa kau

Aku..
seorang pemuja sang nyata,
yang hanya hadir dipejaman mata
jauh di muka sang waktu,
kau fana.

Kau..
seorang dewa cinta
beringsut pergi dari satu hati
ke pemilik hati lain
 tak tahu betapa rapuhnya korban hatimu
mereka mengiba mengharapkan kembalimu
yang teriba malah menghilang
dimakan ego
dirajuk nafsu

Sabtu, 17 September 2011

waktu silam

Memandangmu
Banyak menguap
Bercerita tentang mimpi
Sebuah bayangan kita waktu mendatang

'Jangan biarkan itu teralu lama' bisikmu
Aku mengangguk
Kau menggengamku
Dan tersenyum, sangat bahagia.

Disini lagi...

Mengenangmu
Tertawa renyah
Bercerita tentang mimpi
sebuah bayang yang tak akan terjadi

'Izinkan aku bermimpi sendiri' batinku
Mataku terpejam, mengharu
kini kita mewujudkannya masing-masing
lalu aku tersenyum, menghadap langit
DUSTA!

dibawah rindang, dimuka pertigaan.

Ditempat ini,
kita pernah bersama
menunggu hujan reda
biarkan makhluk berlalu-lalang
mendekat-bergabung-menjauh
semua sibuk urus jemarinya

Kita berdua,
dibawah rindang
yang jatuhkan air setetes
Gelap. Dingin.
biarkan petang beringsut
acuhkan udara bersiul

Masih disini,
menunggu bulan bekerja lagi
Lama.
Denganmu.

sadarkah?

Teman, kau tahu mengapa aku masih disini?
hiraukan terik, abaikan hujan.
untuk siapa?
seorang kamu.
dan masih patutkah aku?
dengan sang putri bersanding disampingmu
bercumbu didepanku
mematut dipandanganku
hanya memalingkan muka
sambil teriris, aku tersenyum pahit.
biarkan pedih tak nampak dimata sayuku

aku menangis ditampatku! lihatkah?
Ya, tanpa air mata dan teriakan merintih,
menahan pilu.
seharusnya kau sadar itu!
tapi membuatnya tersenyumlah yang tetap kau lakukan!
tak apa.
aku masih menunggumu menatap lurus kedepan
ada seorang pecandu,
berharap kau kembali.
merangkai lagi
bermimpi lagi.

Kamis, 08 September 2011

Dibawah sakura

Dibalik tinta pekat,
Biarkan aku goreskan cerita tentangmu
yang menggigil akibat akibat asap

Sore itu..
Aku lihat siulet tegap berjalan lesu. Melemahkan pandangan sejenak ke arahku, lalu pergi lagi.
Aku ikuti langkah lebarmu. Berjalan lurus kedepan tanpa berbelok. Kau injak daun apa saja yang halangi jalanmu. Salah apa mereka? Lalu langkah itu makin jauh. Harus berlari kecil aku menyamainya. Kau tetap berjalan lurus. Menunduk. Dan aku dibelakangmu.

Sudah nyaris petang dan jalanmu masih sama, lurus kedepan. Ah! Itu dia! Depanmu hanya ada sakura gugur dengan kanannya lampu tanah berbaju kuning. Dimana kita? Taman. Tempat awal kita temu sorot, lima bulan lalu. Kau berbalik. Aku terlonjak kaget menyubit keras jemari didepan bokongku. Berharap kau tak tahu aku 'Seorang menguntitmu'. Tapi.... salah! Kau mendekat. Ciptakan nafas yang wangi didekatku. Lalu.. kau ucapkan maksut hatimu. Aku terlonjak. berusaha menjauh tapi sayang sekitarku tak bersahabat. Ini teralu indah, Tuhan..
Tolong jangan akhiri hari ini, dibawah Sakura..

Sabtu, 03 September 2011

cerita tentangmu

Aku menulis lagi,
Bagian tentangmu yang hilang sedikit demi sedikit. Berharap cahaya aurora tetap menyimpannya meski semua nyatanya jauh dari masa depan yang akan aku lewati. Ini mimpi yang aku bentuk dengan magnet egoku. Aku sungguh tak menginginkannya masuk lagi, teralun lagi dalam simfoni dibawah mata yang merapat. Tapi apa daya, cerita itu muncul lagi, lagi-lagi muncul..

'Septa hardini' teriak Bu Vera mengabsenku. Aku angkat tangan. Lalu rebahan lagi di meja kelas. Malas.
'Sudiro Cahyo Fauzan' lagi-lagi Bu Vera mengabsen. Yang punya nama angkat tangan tanpa menoleh sedikit ke Bu Vera. Cahyo sedang bermain pensil dengan teman belakang bangkunya. Ini minggu kedua kelas biologi. Jadi bebas saja mau berbuat apa. Jadwal kelas Biologi kelas kami memang sangat kacau. Minggu pertama di Lab. Minggu kedua dikelas, setelah Bu Vera absen, dia langsung pergi lagi mengajar di Universitas Ahmad Yani. Menjadi dosen teknik mesin. Lalu minggu ke tiga dan keempat kembali lagi ke Lab untuk praktek. Semenjak perubahan jadwal, kelas kami tak lagi mendapat kelas Biologi teori. Padahal apa gunanya praktek kalau teori yang dasar saja tidak tahu. Jadilah hanya kelas kami yang buta benda saat kelas Biologi di Lab berlangsung. Bu Vera sampai kewalahan saat beliau menyuruh murid untuk mengambil termometer air dan udara. Beliau harus menerangkan dulu dikit demi sedikit teori yang seharusnya diajarkan saat jam praktek.
Aku lirik Cahyo sekali lagi. Masih berkutat dengan pensil kesayangan miliknya. Dia memang selalu menang saat permainan bodoh itu. Aku lupa namanya, Cahyo pernah cerita. Tapi aku lupa. Ini kamis yang sangat terang. Sedikit mendung hingga terik enggan berkerja dengan baik. Jadi aku memutuskan keluar kelas dan berjalan ke kantin sekolah, sendiri. Aku malas berteman dengan teman perempuan kelasku ini. Mereka senang membicarakan boyband yang akupun tak pernah dengar sedikitpun nama personilnya. Dan berkumpul dengan mereka adalah mimpi burukku.
Aku berjalan sendiri ke kantin sekolah. Berjalan menunduk sambil menendang-nendang kerikil kecil yang menghalangi jalanku. Ini hari kedua hari Raya Idul Fitri, baju yang kami kenakan berbeda-beda tiap kelasnya. Kelas XI IPA2 tahun ini memakai baju warna hijau tosca bebas. Ah aku jadi ingat Cahyo! Penampilannya hari ini sangat tampan. Memang tampan sekali dari dulu. Itu salah satu alasan aku menyayanginya seperti ini. Kantin masih sepi karena jam pelajaran belum berakhir. Aku membeli jajanan dan duduk sendiri dipojokan kantin, menunduk. Memperhatikan jajanan yang ku pegang. Aku tak lapar. Tapi entah mengapa hatiku sangat risau sekali siang ini. Melihat Cahyo tertawa lepas dengan teman-temannya membuat beban yang sangat mendalam. Ada apa pun aku tak tahu dan aku benar-benar tak mau tahu. Sembari menatap lekat-lekat jajanan yang aku makan, dibalik jajanan tersebut, terlihat sepasang sepatu hitam-putih yang sangat aku kenal bentuknya. Terlihat sedikit tak jelas dan sedikit buyar. Aku mendongak. Cahyo menyengir memperlihatkan muka lugunya. 'Ngapain nge-galau buuuu?' 'ga.' Bola dari lapangan mendekat ke arahnya dan Cahyo sedikit berlari sembari menendang bola ke arah lapangan. Aku ditinggalnya sendirian.
Bel pelajaran terakhir. Fisika.
Aku duduk bersama Suci, anak terpintar satu angkatan. Meminta ia mengajariku sederet soal fisika yang genap dua kali aku ulang ulanganku yang mendapat nilai tak luput dibawah rata-rata. Hampir satu jam berlalu, masih dengan suci dan masih dengan satu soal yang sedari tadi Suci ulang berkali-kali menjelaskanku. Hatiku tak lagi ada di soal itu, coretan Suci, Kata-kata Suci. Buyar. Aku rebahkan kepalaku diatas meja. memandang kurus kedepan. Cahyo. Dia tersenyum kearahku, lalu kembali lagi menjagari Ila soal fisika. Cahyo memang pakar Fisika sedunia. Ada yang aneh di senyumnya. Ada yang aneh rasanya tiap aku melihatnya. Dia satu ruang denganku. Didekatku. Merasa atmosfer yang sama sepertiku. Tapi rasanya dia jauh.. Tak lagi bisa aku gapai. Senyumnya terasa tidak terarah padaku.

Dan.. saat aku tersadar,
Aku menyadari betapa hinanya aku dikendalikan alam bawah sadarku. Bodoh!
Terpikat dengan hal fana yang sebenarnya tak boleh lagi singgah dihati perihku. Tentang kamu, tentang kita, tentang cinta yang merusak grafitasi bumi. Aku tahu kini rasa aneh apa yang hinggap tiap melihat matanya. Perih. Iya benar Ia tersenyum, tapi senyumnya bukan untukku. Iya, memang benar dia didekatku tapi rasanya terpisah jarak yang sangat jauh. Aku seharusnya sudah terima kenyataan yang sesungguhnya lebih pahit daripada mimpi yang sedetik lagi terlupa...
Dia tak lagi bernafas untukku.
Kita sudah berbeda sejak awal dan kami telah terpisahkan.
Aku harusnya sadar itu..

Jumat, 29 Juli 2011

bahagia milikku

bukan lagi seperti dulu
seharusnya aku tahu itu!
bukannya malah berkoar lagi
berharap 'mengenangmu' bukanlah jalan akhir cerita ini
ya! aku benci mengenangmu!
membuat airmata semakin jadi saat menatap lampau diriku yang tetap membisu memandang jalan setapak tempat kau menarik lembut kepalaku dalam hangat dadamu
membuat duka semakin dalam saat lampau diriku dapat tertidur disisimu yang tetap memetik suara gitar
menjadikan perih samakin tumpah saat lampau seorang aku dapat membuatmu mengelap air mata dan kembali tertawa!
ya! aku benci mengingat tawa itu!
tawa itu milikku
akulah satu-satunya penikmat tawa itu
hanya aku seorang yang boleh memilikinya
tiada siapapun yang boleh membuat kau sebahagia itu selain....AKU!!
seharusnya begitu sampai masa yang kita tentukan

akulah dia

dia merindukanmu,
itulah sebabnya dia senang memandang langit

disana terbentuk seulas senyum lugumu
sangat tulus, dan bagaimana cinta ada didalamnya?
hanya seorang pengagum abadimu yang tahu hal itu

dia senang menyembunyikan harunya saat melihat dirimu mampir lagi
membentuk senyum itu lalu pergi lagi, hilang
dia senang mengabaikan pilunya saat naluri memaksanya untuk tetap diam memaku melihat kau terlintas didepannya
membentuk alasan mencintamu lalu pergi lagi, selalu begitu

bagaimana seorang pengagum mendahului tangis sebelum bersama?
jawabannya hanya:
karena senyum itu palsu dan hanya untuk membesitkan rindu yang membludak
lalu kemana engkau?
bersembunyi dibalik tumpukan jerami sambil tertawa genit
lalu sedang apa dia?
menyelipkan kau didoa terakhirnya,
menangis sepanjang bulan bekerja,
dan mengingatmu gila
sampai sekarang

jangan hantui aku lagi

Mungkin bukan aku yang kau harapkan membacaisyarat kesepianmu
Demi tuhan! sungguh aku ingin menolak kenyataan ini bila mampu
Sayang, sepanjang kudapati matahari yang terbit dan terbenam,
Tak pernah sekalipun cahaya aurora muncul sebagai pertanda bagiku
Untuk kemudian beringsut pergi menjauh,
Lantas kemudian menepi dari ini semua

Kejora disana malah menuntunku untuk terus menemukan sepetak jalan menuju pintumu
Dan!
Kini aku ingin berhenti mengorbit,
Karena hatiku telah merasa akan ada dirimu!

Tolong! berhentilah membayangiku!
Kau takan pernah tau bagaimana rasanya berlari dari siuletmu yang terus menghantuiku
Aku lelah!
Bahkan berulang kali kuharap ini tak perlu ada
Karna tak akan aku rasakan sakit yang begitu pilu,
Membayangkan engkau ada disitu berkasih dan bercumbu bukan dengan aku!!

Kisahku takan pernah habis dimalam keseribu satu,
Maka aku perlu kertas dan pensil lebih banyak lagi,
Karena tangan ini tak bisa berhenti untuk tak menuliskan tentangmu..

by: @nadyaprimsl

Rabu, 27 Juli 2011

rasa dibalik punggung

aku terpaku dibalik punggungmu
menatap lurus ke depan, hanya ada tas hitam dan topi merah
tanpa meminta kau berbalik
aku tahu rasa itu makin tegas
mendorong agar terus melihat kearahmu, menyorot dalam
satu menit kedepan aku masih terpaku bagai segolek wayang
padahal kau telah pergi detik detik yang lalu

teman, aku menyayangimu, bolehkah aku?
atau tolonglah yakini aku rasa ini hanya ada dibalik punggungmu, selamanya!
jangan salahkan aku
bila aku adalah perasaan yang membisu saat kau tampak, dan
meluap saat kau landas

Kuala Lumpur,
6th of July 2011
4.41am (waktu KL)

berada di dua masa

jangan salahkan aku bila aku bisa mencintai sorang mirip kau. aku lelah mengejarmu, aku berhenti mengharapkanmu. mungkin memang itu jalan yang Allah beri. membuat kau tak tertarik kepadaku, lalu aku beringsut pergi dan mendapat yang lebih baik daripadamu. aku mencintainya sama seperti aku mencintaimu!!
sejak kali pertama aku dapat detik berpapasan mata dengan kau. norak memang! tapi aku bisa mencintaimu sampai gila, dua tahun aku tergolek kaku didepan siuletmu yang tak sudi lagi menatapku seperti pertama.
kenapa? karena setelahmu akan ada dia.
dia yang mau menatapku kedua kalinya, ketigakalinya, keempatkalinya. bahkan kadang aku tangkap sorot matanya yang menyorotku. aku senang didekatnya. sangat nyaman! bahkan kau tahu? saat senyap aku berangan dapat merasakan dibelai oleh tangannya, dipeluk dengan kasih dan kami saling melengkapi. sangat sederhana!!
aku tak mau lagi mengharap selamanya seperti aku menginginkanmu. itu bukan kata-kata yang tepat, mungkin.
mulai detik ini aku akan landing dihatinya yang lugu, dan menjauhimu yang mulai sudi lagi menatapku. selamat tinggal 2 tahun terpaku olehmu. selamat tinggal tangis disela doa. selamat tinggal juga raga yang mengajariku bersabar atas penantian.
tolong doakan aku, agar dia bisa terus menoleh ke arahku. mengganti sorotnya dengan sorot yang lebih tajam.

Singapore,
5th of July 2011

After the feeling must be broken

aku sudah lupa betapa bahagianya aku disana, KL dan SPR.
kini rasa yang tercipta hanya hambar tak terasa
mungkin aku benar pernah menyukainya. tapi itu dulu,
dan kini tiada lagi cerita untuk itu
aku mampu melupanya dalam pereseribu denyutku
aku pernah tergoyak dalam mimpi
tapi kini aku tersadar
bukan dia yang harus aku harapkan,
mungkin memang seharusnya bukan dia sejak awal, aku tahu itu

Indonesia,
14th of July 2011

Rabu, 01 Juni 2011

yang menunggumu memeluknya

aku sudah lelah
aku sudah penat
mungkin ini akhir dari permainan kita di bawah hujan
tak lagi meminum hujan, apalagi bermain petir
aku masih mau bermain dengan asap
tapi sayang yang ada hanya kilat

sebenarnya aku tak ingin reda
tapi bila matahari mulai tampak lagi
untuk apa aku tetap disini
mendung untukmu
padahal secerah silau menunggumu diufuk
pergilah, dia disana menunggumu memeluknya
hiraukan aku karna aku hanya gelap yang membawa sedetik guntur

mungkin memang iya tangisku tumpah
pasti hanya seminggu lalu reda lagi, tenang saja
mungkin memang iya harapku bernanah
tapi pasti hanya seabad lalu sembuh lagi, pergi saja

dengan dia yang tersenyum ikhlas dan berjanji menjagamu

Minggu, 22 Mei 2011

merindumu selamanya-cerpen

aku melihatmu (lagi).
anggap ini yang kesekian kali setelah kita berpisah. tapi aku benar-benar melihatmu lagi dalam sosok yang berbeda. bukan saat denganku dulu. mungkin karena perpisahan kita yang teralu lama membuatku melupa wajahmu. mungkin juga rasa sayang yang terpaksa kupendam ini membuat aku lupa pantulan sosokmu. aku semakin tak wajar setelah barusan melihatmu melintas depanku. aku sangat gembira. sangat gembira. itu benar dirimu? atau hanya bayanganmu? lalu bagaimana bila itu bukan kamu padahal aku sudah segila ini? aku tak perduli.

aku merindukanmu. bahkan aku sangat merindukanmu saat hari itu benar-benar terjadi. hari yang sangat aku hindari. tak pernah ada hari itu dalam doa-doaku, doa-doa kita dulu. bagaimana tidak? delapan tahun kita menghabiskan masa-masa remaja kita untuk menuju satu titik kebahagiaan. kadang aku tak yakin. kadang aku meragu. kadang juga aku menyerah. tapi engkau menahan tubuhku yang melemas lelah. menghadapi engkau. menghadapi dunia luar sana. kau topang aku sekuat-kuatnya. kau bisikan kata-kata yang kau petik dari langit. setelahnya, aku kembali kuat. berani melangkah bersamamu lagi. berani percaya semua janjimu. berani mengucapkan janji-janji yang sama sepertimu. berani menunggu delapan tahun lagi demimu. demi kita. awalnya aku yakin aku mampu denganmu sembari menunggu delapan tahun itu. awalnya delapan tahun itu aku pikir sebentar. apa susahnya menunggu delapan tahun? hampir sehari-harinya kita sekolah yang sekaligus membuat delapan tahun itu sebentar. sangat sebentar. apa beratnya menunggu delapan tahun kalau kita sama sama mencintai.

dari sekolah menengah pertama kita bertemu, saling kenal, saling suka, saling menyayangi, dan sama-sama gila cinta monyet. mulai dari aku mati-matian pindah ke excul cheerleaders untuk menyemangatimu pertandingan basket, bolos pelajaran bersamamu, jajan dikantin bersama,sampai pulang sekolah bersama hanya untuk menikmati ceritamu, mendengar tawamu, semuanya! suatu saat, setelah pelajaran olahraga, aku mengelap keringat hidungmu. kita duduk bersisihan. 'kita sampai kapan ya?' kataku memecah kesunyian. 'selamanyalah' katamu mantap. 'ha?emang kamu mau nikah umur berapa?' (saat itu aku umur 14 dan kau umur 15) 'berapa ya? 19 aja hehe.' lalu kita tertawa. 'kecepetan!' kataku masih sambil tertawa. 'berapa ya? 27 aja!' aku diam. cemberut. 'dih? ketuaanlah' 'terus berapa? kamu maunya umur berapa?' aku diam. lalu aku mendongak melihatnya 'dua puluh dua' 'berarti aku dua tiga ya?' 'iya berarti......' mulutku komat kamit sembari menghitung. 'delapan tahun lagi tha.' kau tersenyum 'iya delapan tahun lagi kita nikah deh hehe' aku tersenyum sambil kembali menghitung-hitung. 'aku ngga yakin kita 'masih' pas delapan tahun lagi.' kau tersenyum lagi. meremas-remas rambutku. 'bisa ngga ya?' kataku. 'bisalah, bapak sama ibumu aja bisa. mereka berapa tahun coba?' 'sepuluh tahun' 'nah kita cuma delapan tahun pasti bisalah.' 'yakin?' 'iya sayang.' kau mencuil ujung hidungku dan tersenyum manis. aku tersenyum mantap.

lalu sekolah menengah atas. kita terpisah, kau pilih jurusanmu, aku pilih jurusanku. rindu itu makin jadi tiap tak ada lagi tawamu. tapi kata-kata dari langitmu membuat aku terus yakin. renggang itu pasti ada, pembatas itu pasti ada. sering kita terpisah, namun tak sampai terurai, kita bersatu lagi.

sampai pada tiga bulan sebelum kelulusan Sekolah Menengah Atas, saat kita bertemu untuk menyicip rujak buah bersama sembari mengobati rindu yang menyengat, kau mendekati telingaku saat kita sama-sama bungkam 'sayang, seminggu lagi aku mau ke Amerika.' bisikmu. 'oh, ada apa emangnya?' kataku santai. kau tersenyum 'aku mau test kuliah disana sayang.' kau tersenyum lagi. 'berapa lama?' kataku masih santai. 'seminggu sayang.' aku tersenyum. kau juga. lalu aku dengan santainya menikmati rujak buah lagi. 'cuma seminggu?' kataku bergurau. 'seminggu aja udah beban buatku sayaaaaaang.' katamu dengan merengut. 'loh kok beban? nanti suamiku udah jadi sarjana lulusan Amrik looh.' kataku bergurau lagi. 'hehe tapi nanti kamu kangen aku, gimana dong?' katamu sambil tertawa. aku tertawa. perasaanku saat itu sangat senang. kau selalu mendapatkan apa yang kau rancang. dari menang berlomba ranking dariku, nilai nemmu, jurusan favoritemu, semuanya! kau yang merencanakannya, kau sendiri yang membuktikannya.

dan seminggu setelah kelulusan sekolah menengah atas, kita bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. aku mengantar keberangkatanmu. namun perasaan kehilangan itu belum juga hadir pada asaku. 'aku berangkat dulu yaa sayang, janji sama aku. kamu tunggu aku.' katamu sambil memegang pipiku. 'tunggu kamu jadi sarjana perarsitekan terbaik didunia.' kataku sambil senyum. 'dan melamar kamu sayang...' air keluar dari ujung matamu. 'iyalah pasti!' kataku mantap yang belum juga takut kehilanganmu. dari speaker terdengar panggilan untuk panumpang pesawat yang akan kau naiki. 'yaudah yaa.. aku sayang kamu. aku janji! empat tahun lagi aku disini buat kamu. kamu harus jemput aku! HARUS!' nada suaramu meninggi, air matamu makin deras. 'iya sayang. aku juga sayang kamu. jangan tergoda sama bule yang magang yaa' aku tertawa lepas, begitu juga denganmu. namun air matamu makin deras lagi. aku mengelapnya dengan ibu jariku. 'jangan kemana-mana. tunggu aku sayang.......' kau menangis lagi, 'aku sayang kamu.' kau melanjutkannya lagi. kau tersenyum ikhlas. sangat lega aku melihatnya. lalu mataku dengan matamu bertemu dan mendekat. untuk pertamanya dalam empat tahun aku bersamamu. kau menciumku. hangat. dan kau melepasnya sebelum aku berniat untuk membalas. 'aku pergi dulu, aku sayang kamu! aku telfon kamu setelah aku sampai sana.' aku hanya tersenyum. aku mempercayainya. dia sudah memasukan aku dalam daftar rangkaian hidupnya. dan aku yakin dia akan mewujudkannya.

***

aku masuk Insitut Tekhnologi Bandung hanya karna nilaiku kurang untuk masuk Universitas luar negri. setahun terasa cepat dengan teman-teman baruku. dosen yang menyenangkan. dan dengan cerita kejamnya kota Bandung saat itu. aku menikmatinya. sangat menikmati tahun pertamaku disana. ditahun kedua, tepat aku semester 3, aku mengambil jurusan perarsiran bangunan. aghata ambil jurusan lanscaping. apa itu? entahlah. kami sama-sama calon arsitek. aku menyayanginya. amat sangat menyayanginya. aku sudah berjanji menunggunya. sampai.. semester 6ku telah tiba. skripsi sudah hampir selesai. aku menyusunnya matang-matang. sayangnya, pada hari dimana aku presentasi, ibuku meninggal. tanpa memperdulikan skripsi, aku pulang ke Jakarta. selesai pemakaman ibu, aku kembali lagi ke Bandung. sayangnya tidak ada keringanan yang diberikan dosen kepadaku. aku harus mengulang 2 semester lagi. Aghata juga. jurusan yang dia ambil juga menghabiskan setahun lebih lama daripada jurusanku. hingga tahun lulus kami akan sama.

hari dimana aku sedang liburan 3minggu kenaikan semester 8, aku dikejutkan oleh telfon Aghata. 'sayang, maaf aku pulang telat. aku sekalian magang.' dari kata-katanya, aku bahkan belum menemukan rasa kehilangan. aku sangat mempercayainya. 'iya sayang, nggapapa. jangan nakal yaa hehe.' 'iya sayang' dan percakapan berlanjut hingga larut malam. esok paginya aku kembali dikejutkan oleh telfon kakak tertuaku dari Jakarta 'dek, ada waktu buat pulang dek?' 'ada mas. libur tiga minggu nih. ada apa?' 'pulang dek. ada yang kangen.' 'siapa mas?' 'nanti juga kamu liat. aku siapin travelnya ya dek.' 'buru-buru banget mas?' 'hmmm, ngga sih. tapi penting!' 'oke aku siap-siap. kira-kira kapan?' 'besok pagi' 'oke' 'yaudah ya dek, Assalamualaikum' 'Waalaikumsalam.'

esok siangnya aku sudah sampai rumah. salim dengan bapak, kedua kakakku, dan kedua adikku. mereka semua berkumpul. padahal anak-anak dari kakakku belum libur sekolah. saat masuk kamar, ada kebaya krem kental terlipat rapih di atas tempat tidurku. tanpa menyentuhnya, aku menghambur keluar mencari Mba Arum, kakak keduaku. besok ada lamaran tetangga, aku harus siap setelah subuh katanya. di kamarnya juga tergantung baju yang sama denganku. hanya saja, miliknya lebih sederhana.

paginya aku menuruti kata Mba Arum. ternyata keponakan-keponakanku, hingga bapakpun siap-siap juga sepertiku. jam7 mobilnya datang kerumah jemput keluarga besar katanya. tapi salah! keluarga Aghata yang datang melamarku. aku bahagia, sangat bahagia. kami tidak tunangan! kami langsung akan melangsungkan pernikahan. entah kapan. tapi ini awal yang sangat membanggakan. delapan tahun rancangannya itu benar-benar nyata!

***

sebulan setelah kau melamarku, kau diterima diperusahaan international khusus lanscape. kau dulu menginginkannya. itu cita-citamu. bahkan aku sampai penat ketika duduk bersama, lanscape lah topik kita saat itu. ketika telfonan malam hari, lanscapelah topiknya. kau juga mengabaikan SMS dariku karena kau sedang asik membaca informasi tentang lanscape diinternet. iya, kau berhak mendapatkan pekerjaan yang sesuai. lalu lima bulan setelahnya aku wisuda. kau berada disampingku disaat bahagia itu. baru seminggu setelah wisuda, aku sudah bekerja menjadi bawahanmu diperusahaan yang sama. lalu kita berencanakan melangsungkan pernikahan empat bulan setelahnya. semua siap. kita sama-sama berpenghasilan. kau yang beli rumah, baju pengantin, aula, tempat honeymoon, sewa mobil, sampai resepsi khusus keluarga besar. aku yang beli mobil, undangan, dekor kamar pengantin, cathering. semua benar-benar siap.

inilah delapan tahun yang kita tunggu-tunggu. 08-08-2028. manis sekali. semua rangkaianmu benar-benar terwujud. 'saya nikahkan anak saya yang bernama Cwandra diningrumtyas dengan Aghata senja soedirga dengan mahar Al-quran dan seperangkat alat solat....' bapak lantang berbicara. 'saya terima nikahnya anak bapak yang bernama Cwandra diningrumtyas...............................'

pernikahan selesai. malamnya, resepsi pernikahan diGedung Bidakara. adat jawa tengah. sangat megah. seperti mimpi atau negri dongeng atau apalah. tamunya sangat banyak. teman SMP kami, teman SMAnya, teman SMAku, banyak juga bule yang datang berasal dari Amerika langsung. sebagian besar teman kuliahnya. ada juga atasannya. kau tersenyum dengan iklasnya sepanjang malam itu. setelah selesai, kau pulang kerumahmu, dan aku pulang kerumahku.dimobil pengantin yang arak-arakan, kau berbisik ditelingaku 'aku sayang kamu, hari ini dan selamanya.' lalu kau mengecup dahiku. lama. hangat.

keesokan paginya, tepat jam 6 pagi, kau sudah duduk bersama bapak diruang tamu. aku mengintip dari seucil sela pintu kamarku. aku tertawa geli. mengingat dahulu kali pertamanya kau datang malam minggu kerumahku. dahulu, muka bapak masih sangar dan tersirat ketidaksukaannya kepadamu. sekarang, bapak malah teramat bangga kepadamu. aku tak akan pernah salah pilih orang. berulang kali aku memutar tubuhku didepan cermin kamar. melenggok-lenggokan bokongku. berkali-kali aku rehap rambutku, keriting, lurus, ikal, lurus lagi, dan akhirnya aku kuncir kuda. mini dress putih dari Bali aku kenakan. dan dua tas ransel besar. aku keluar kamar dan menghampirimu sambil terpincang-pincah menyeret ranselku. kau menghampiriku, membatuku membawanya. kau mengenakan baju kerah abu-abu dengan celana pendek warna krem. tersenyum. setelah berpamitan kepada bapak dan kakak-kakakku, kita pergi Yogyakarta. berbulan madu.

jam 19.00. setelah sampai hotel, kau turun terlebih dahulu sambil menurunkan barang-barang dan check-in. aku tunggu didalam mobil. tak sampai sepuluh menit, kau kembali lagi ke mobil, membuka pintuku, dan menarik tanganku keluar. 'kamar nomor berapa?' kataku sambil megapit tangan kananmu sambil memasukin pintu lift yang hampir terbuka semuanya. '8828 sayang' jawabmu datar tanpa menoleh kepadaku. aku mengangguk. LANTAI 8. pintu lift terbuka sebagian, lalu aku meloncat tepat didepanmu. 'angka kamar kita kayaknya ada yang janggal nih' tanyaku riang sambil melipat tangan. kau masih mematung ditempatmu. tepat didalam lift dan aku diluarnya. kau tesenyum. itu delapan tahun yang kamu minta sayaaaaaang' lalu kau menarik tanganku pelan. 'kok nomor kamarnya pas sih sayang sama tanggal nikah kita?' tanyaku dilorong jalan menuju kamar. 'aku yang pesan delapan tahun lalu.' jawabmu. aku bungkam. bukannya tidak suka gombalannya yang basi, bukan juga aku menghiraukan jawabannya. hanya saja entah bagaimana, aku ini sudah ada didaftar masa depannya saat ia masih orok bahkan. lalu didepan kamarnya tepat nomor 8828, aku ikut memutar tubuhku 90% untuk menghadap kamarnya. dengan kilat, kau persis dibelakangku dan menutup mataku. 'semoga kamu suka' bisikmu sambil melepas tanganmu dan mencium pipiku.

pintu tertera nomor kamar dan tulisan 'welcome to real life, dear' maksutnya apa? lalu kau membukakan pintu kamar dan mendorongku pelan masuk. lampunya mati. satu detik kemudian aku mencium bau tulip. kau nyalakan lampunya. ternyata hanya lampu atas meja rias. masih samar, kemudian aku berjalan mengendap-endap. kau menuntunku. aku duduk ditepi kasur. kemudian melihat sekeliling. buram. kau berjalan kearah pintu. lalu lampu nyala tepat diatas dua meja disisi kasur. rangkaian bunga! aku mengejapkan mata. lagi. lagi. yang kulihat hanya rangaian bunga diatas kasur. tulip merah marun. banyak bunga tulip disini. ditiap atas meja, di pinggiran pintu, ditepi bingkai lukisan. semuanya tulip!

kau menutup pintu dan menghampiriku duduk bersisihan denganku. 'suka sayang?' tanyamu. aku tersenyum 'makasih tha. makasih banget ya' jawabku menangis. 'dih? kenapa nangis gitu? waduh aku nangisin anak orang nih, udahan yaaa cuup cuup' lalu kau memeluku. kita tertawa. 'kalau ngga suka bilang ya ratuku' katamu disela tawa. 'aku ngga meragukan arsitek seperti kamu, tenang aja!' jawabku melepas pelan pelukanmu. saat kedapatan ruang menatapmu, kau pun menatapku. kau tersenyum mendekat, dan memangut bibirku. hangat. aku membalasnya seperti kehausan. lalu matamu terpejam. akupun ikut. tangan kananmu yang masih dibahuku turun membuka kardigan, kemudian membuka tali dress yang terlampir di bahuku, sampai lengan. nafasmu memburu seperti tersengal. lalu dress yang menggantung tepat didepan buah dadaku, kau turunkan sampai didepan pusar. tanganmu menjalari buah dadaku. kemudian aku menepisnya pelan. menaruh tanganmu diatas pundakku. aku membuka kaosmu. lalu berlanjut sampai kita dapatkan apa yang kita inginkan. kamar masih remang. 'sayang, maaf aku belum mau punya anak dulu ya, jadi aku..' bisikmu disela desahanku. 'kamu pake...' nadaku meninggi. 'iya, maaf' jawabmu datar. aku menjatuhkan badanku tepat disampingnya dan memakai selimut. aku lempar rangkaian tulip yang sedari tadi menjadi saksi menit pertama kami. aku memunggunginya.

***

dan hari-hari setelahnya, aku sangat menikmati pangilan istri seorang Agatha. dibangunkan oleh kecupannya, menjadi ma'mum dalam solatnya, membuat sarapan buatan buku resep, mengecupnya diambang pintu saat dia pulang maupun berangkat kerja, belanja dengannya, makan satu meja dengannya, merapikan rumah bersama, semuanya! sampai menyanggupi permintaannya untuk tidak mempunyai anak terlebih dahulu. aku menyayanginya. aku sangat mencintainya. aku kesampingkan keinginkanku menggendong darahku, untuk seorang Agatha. setahun pertama sangat menyenangkan, tahun kedua sama, sayangnya tahun ketiga semua tak berjalan sesuai doa-doaku. kami mulai renggang. Aghata memilih menceraikanku. perusahaannya rugi banyak. katanya ia tidak mau bila aku ikutan menjadi susah karenanya. masuk akal? tidak!

hanya diperlukan waktu empat bulan untuk benar-benar melepas status 'nikah' kami. kemudian aku diberinya rumah kami. satu-satunya yang ia tinggalkan untukku. aku memilih untuk tidak menempatinya, aku masih mencintainya, dan tinggal dirumah berdebu kenangan hanya akan membuatku terus menginginkannya. Aghata pergi sekolah lanjutan dengan bekal beasiswa ditangannya. dia ambil urusan master lanscaping di Malaysia. aku tinggal dirumah, merawat bapak yang mulai pelupa. mengjarinya membaca kembali, memandikannya, merawatnya. kadang aku merasa lebih baik aku begini. aku bisa turuti jalan hatiku untuk mengurus darahku. meski bukan anak, tapi beliaulah sumber darahku. sembari bekerja dibagian desain interior diperusahaan swasta.

aku merindukannya. sosok yang tak pantang menyerah mendapati apa yang ia rancang. sosok yang membuatku jatuh hanya sekali yaitu padanya. dan aku masih mencintainya, didalam isyarat kesepianku. didalam sadar tidurku.

mungkin aku teralu merindukanmu, itulah sebabnya aku tak berani menyapamu lagi. aku takut tangisku tumpah dan menganak samudra. aku tahu aku akan teruuuuus  merasakan sakit bak sembilu tajam yang menusuk rongga mulutku; aku seperti tercekat tiap detik. merasakan sulit bernafas dan tak dapat teriak- namun apalagi cara pura-pura melupamu kalau merindumu saja aku gila. baiklah aku akan biarkan engkau terbang bersama mimpimu, dan aku juga. biar habis sudah rindu yang kurasa.

Sabtu, 16 April 2011

terjaga dengan kenanganmu

akulah seorang pencari dirimu yang hilang
aku mencari ditiap tiap bulu yang menemple dikulitku
ditiap tiap ruas bambu yang menua dan melapuk
bahkan ditiap tetes air hujan yang mencoba merangkul tanah


aku melemas
tubuhku bagai asap yang baru terlahir memasuki fatamorgana adamu
menyentuh kulit rentanmu yang makin rusak semenjak takku jaga
menggenggam jemari yang makin nampak kerutnya
lalu merebah didada bidangmu,
mendengar apa yang kurindukan:
nyanyian lagu cinta buatan kerongkongan keringmu
merdu
mendayu
menyapu sadarku

aku terlelap!
yang ada hanya suara jantungku yang sibuk mendesah
selebihnya hening.
saat aku membuka kelopakku, semua hilang!
aaaah lagi-lagi hanya ilusi.
bukan masalahku!
yang terpenting aku pernah terjaga maski dengan sisa kenanganmu

cinta dalam sepotong cerita

sekiranya, cinta melukis bahagiaku malam itu
tak paham kapan waktunya
yang jelas, itu sangat lampau
bahkan berharap semua akan kembali
jelas tak mungkin rasanya

dulu, aku menjagamu dari tiap luka yang coba mengecupmu
mengalamatkan rindu padamu dan selalu begitu hingga saatnya luruh sendiri
dulu juga, selalu namamu yang kubanggakan didepan temen-temenku
sungguh begitu indahnya kebersamaan rasa sunyi

tapi hari ini,
aku baru tahu, janji yang kau ucapkan, jelas tak benar adanya
palsu! aku memang tertawa dan tersenyum peduli
namun aku hanya menutupi setiap inci sakitku yang kau buat kedua kalinya

mengapa mesti kau cacah setiaku yang hanya satu, kamu?
mengapa mesti aku yang kau jadikan kelinci?
kini, aku hanya dapat biarkan semua usai terjawab waktu
dan biarkan kau bahagia
walau bukan dengan ku, lagi

terbang

10.07.10
bawa aku terbang jauh
mengembara dengan sayap dewamu
bawa aku mengelana cintamu
menyusuri tiap inci kebahagiaan hidupmu
bawa aku melihat dunia sempit ini
beri aku waktu beberapa detik lagi untuk lihat ini, bersamamu
jangan menuntutku teralu banyak
hanya karena permintan bodohku ini

jangan liat kearah lain!
karna aku yakin, yang kau cari selama ini adalah aku.
ingat aku disampingmu
ingat aku yang menemanimu
kita terbang bersisihan
bawa aku bahagia diduniamu
menghabiskan waktu berdua denganmu lebih lama

jangan biarkan ini berlalu
aku tak sanggup
aku tak mau

cinta dengan tiadamu

Tanpa  lampion tanpa bohlam
masih dengan pilu dan sajak kehilangan
masa mengusik, mengubah mulus menjadi kerut
dan kering menjadi basah karnamu, tetes air mata untukmu
dan aku mengaduh sampai lenyap tangis dihati

lalu denyut mengusir, mengubah legenda menjadi nyata
dan mengubah adamu menjadi tiadamu, kelam dan hancur
aku terus mendesah hingga lelah, sampai lenyap rasa didada

14feb2011

Jumat, 15 April 2011

kita takan terulang

terseka air mata yang menderai terurai. masih hangat
terus tetes menetes dengan duka diatas gambar kita, aku dan dirimu.
aku tersenyum dengan ikhlasku. kau tersenyum dengan legamu
legamu pada saat itu
dan kini senyum itu lepas pada senyum lain
aku ingin kutuk dan tenggelamkan waktu saat itu juga!
telah tanpa dosa mengurai kita dimasa lampau
aku ingin lenyapkan waktu beserta seluruh keturunanya!
telah tega hancurkan kita dan segera pergi dengan kopernya
dan aku ingin benamkan waktu dan menyumpahinya jinak
hanya karna dialah alasan leburnya kita
--menjadi airmata yang rebah dipelupuk dan jatuh dipipi--
kita takan terulang

jemput aku saat rasa itu menyapa

150411
jemput aku saat cinta menyapa
dengan senyummu tawamu dan gombalmu
itulah sebabnya aku beruntung dilahirkan menjadi wanita
yang berhasil buatmu gila teralu mencintaiku
hingga engkau menyeret-nyeret tubuhmu hanya untuk mengejar bayanganmu
bodoh!
sebab itulah aku bahagia terlahir jadi hawa
dapat membuatmu buta melihat dunia
bahkan engkau mati-matian mengubah dirimu dengan diri lain
agar aku dapat menoleh kearahmu
dan menghabiskan sisa-sisa hidupku dengan ceritamu
dongo!

pergilah dari cinta
karena saat dia ada berhati-hatilah engkau dengan rasamu
dan saat hadir dia akan membungkammu dan mendorongmu kebibir jurang keputusasaan
dan saat jiwamu sadar,
kau akan menggerutu dan menyesal pernah mencintai ditiap nafasmu

Sabtu, 12 Maret 2011

"Ma, Pa! Jangan sakiti aku lagi"

“Maafin mamah ya sayang”. Bisik mama sambil merangkulku hangat dan penuh kasih disela sungkeman, tradisi warisan nenek moyang. Jarang sekali kami berkumpul seperti ini, merasa nyaman dan aku ingin masa akan terus begini. Sayangnya tidak mungkin!  Ah, kapan aku terakhir kali merasakannya? Hampir 3 tahun lalu, sebelum Ayah memberikan talak kepada mamah. Saat Aku, Ira, Ayah, dan Mama masih berada didalam satu rumah. Dan kami masih merayakan Hari Raya bersama, dalam suatu ruangan dan tidak terpisah. Bukan seperti saat ini! Ini buruk! Sangat buruk dan tidak seperti yang pernah ada didalam bunga tidurku!
            Aku jadi ingat saat-saat itu! Ketika pertengkaran terjadi, aku dan Ira selalu mendengarnya dari balik selimut. Ira saat itu masih berumur 4 tahun, ia masih belum mengerti apa-apa. Yang ia lakukan hanya meraung dan berteriak memanggil Mama saat Ayah berulang kali memukul Mama. Aku hanya berpura-pura kuat dan menarik Ira ke kamar. Aku peluk Ira erat disela isaknya, aku lingkarkan selimut dibadan mungilnya. Aku bernyanyi sebuah lagu anak-anak hingga Ira lelah terisak dan tertidur di pelukanku. Aku rebahkan kepalanya dibantal, mukanya sembab dan memerah, berulang kali Ira mengigau hingga bangun dari tempatnya. Aku memperhatikan apa yang Ira katakan disaat alam bawah sadarnya berbicara diwajah imutnya yang masih memerah dan bengkak dikantung matanya. “mama jangan tinggalin ila ya mah.. ila engga mau dilumah shendhilian mah.. ila engga mau liat mama dipukul-pukul ayah agi mah”. Aku tersenyum kecut dan menahan air mataku jatuh, jangan sampai aku mengangis seperti Ira. Tapi semakin aku menahannya, rasa ngilu itu semakin meluap dan aku ternyata lebih lemah dari Ira. Aku menangis dan berteriak sekencang-kencangnya tanpa suara, tubuhku meringkuk disebelah tubuh Ira yang kembali rebah dikasur. Aku tahu ini memang salah Mama, membiarkan rekan kerjanya mengunjungi rumah kami disaat Ayah sedang menjalani tugas dinas ke luar kota selama beberapa hari. Dan ternyata tetangga kami melihat itu, ketika ayah sedang tugas dinas, mamah seringkali mempersilahkan rekan kerja laki-lakinya itu masuk kedalam rumah hingga hari selanjutnya. Akhirnya tetangga kami melaporkannya ke ketua RT dan saat Ayah selesai tugas dinas, ketua RT kami menceritakan keluh kesah warganya. Dan Ayah meluapkan kekesalannya saat Mama hendak pergi kerja keesokan harinya dan pertengkaran pun terus terjadi semenjak hari itu.
            sayang, maafin mamah yaa. Mamah dulu khilaf, nak”. Kembali mama berbisik kepadaku sambil menangis dan aku masih dalam pelukannya. “Apa katanya? Khilaf? Aaaah kenapa baru menyadari sekarang? Lalu dulu kemana? Kemana? Oh iya, mama dulu pergi dengan keegoisannya!” Hatiku menangis Andai mama tahu bagaimana rasanya menjadi aku dan Ira pada malam terakhir pertengkaran pahit itu. Saat Ia dengan lantangnya menerima talak dari ayah. Dan Ayah segera mengurus perceraian itu secepat mungkin tanpa membicarakannya dulu denganku dan Ira. Malam itu juga, Mama mengemas barang dan pergi ke rumah Eyang. Begitu juga dengan Ayah, pergi ke apartemennya. Bedanya, Ayah tidak mengemas barang. Tapi ada satu persamaannya! Mereka tidak ada yang berpamitan kepadaku dan Ira! Mereka hanya menyisakan pintu garasi yang masih terbuka dan beling gelas yang masih berserakan diruang tamu. Mengaggumkan sekali! Aku ingin sekali bertepuk tangan di depan mereka atas sifat mereka yang teralu dewasa! Mereka orang tua yang teralu hebat untukku!
            Aku masih mematung sembari dipeluk Mama. Aku sangat bahagia, kini ada Ayah, Ira, dan Mamah di rumah lama kami. Sayangnya, kejadian itu masih membekas dihati. Entah apa yang mendorong mereka untuk mengumpulkan keluarga rapuh ini, yang jelas tadi aku melihat Ayah dan Mama berbincang-bincang dari sebelum sholat Idul Fitri. Eyang uti dan Abah juga ada disini. Aku tak perduli apa yang akan terjadi nanti terhadap keluarga rapuh ini, aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Keadaan ini memang apa seperti apa yang aku inginkan selama 3 tahun belakangan. Tapi keadaan seperti ini juga yang aku benci! Aku harus mengingat kenangan yang seharusnya benar-benar pergi, agar aku dapat memulai hidup dari awal lagi. Tapi terlambat! Semua kenangan itu harus terpaksa terus berputar dibenakku.
            “Sayang......” Ujar mama disela tangisnya, Ia melepas pelukannya pelan-pelan. Dan menatapku, aku ingin segera berterimakasih kepadanya berkat semua yang telah Ia lakukan kepada kami. “Mama bener-bener minta maaf sayang, maafin mama yaa......” Lanjutnya lagi. Kemudian Ia terisak lagi, “mama yang salah selama ini sayang.......” Aku memalingkan mukaku “memang salah mama! Semua salah mama! Biarin aku sama Ira terlantar! Mama seneng kan lakuin itu semua tanpa tahu gimana rasanya jadi aku! Sakit maaaaaa! Andai Mama tahu juga gimana keadaan aku sama Ira saat Mama dan Ayah pergi dari rumah? Tiap Ira bangun selalu nanya mamah udah pulang atau belum! Terus aku dan Ira nunggu mamah sama ayah diteras! Berharap kalian pulang. Sampai siang kita tetep diteras maa! Dan kita engga mungkin makan sebelum siang-siang tetangga ngirim makanan buat kita. Tiap malam juga Ira engga akan mau tidur, nunggu mama katanya. Sampai tiga bulan kemudian, budhe dateng ke rumah. Budhe ajak Ira kerumahnya, katanya Ira suruh main kesana. Ira nangis katanya mau nunggu Mama dateng dulu. Sampai empat hari, Ira akhirnya mau kerumah Budhe. Budhe ninggalin aku uang, rutin sebulan sekali katanya. Aku sendiri di rumah ma! SENDIRIAN! Aku tahu aku anak SMA kelas sepuluh yang udah dewasa, tapi sampai sekarang aku kelas sebelas, aku masih engga ngerti semuanya! Sama yang Allah rencanain buat keluarga kita, lebih tepatnya keluarga rapuh kita. Tiga bulan aku kelas sepuluh dan engga ada seorangpun keluarga yang bisa terima keluh kesahku disekolah. Nilaiku berantakan ma! Disekolah kerjaanku cuma tidur! Aku engga perduli apa yang guru bilang nanti! Toh buat apa aku sekolah tinggi-tinggi kalo aku engga punya alasan untuk ngebanggain seseorang. Aku capek dengan keadaan saat itu ma!” teriak batinku, air mata itu keluar dari sudut mataku dan jatuh dilengan mama. “mama sangat minta maaf ya, mama tahu kamu sakit hati saat itu. Tapi mama percaya kamu engga mungkin terpuruk sayang.” Senyum mengembang dibibirnya. Senyum ikhlas yang selalu ada dibibirnya tiap aku pamit berangkat sekolah, dulu. Aku merindukannya! Sangat merindukannya! “Tadi apa katanya? Aku engga terpuruk? Hahahahahahha mama salah besar! Mama tahu? Aku pernah tinggal kelas? Pasti engga tahu ya? Ma, aku tinggal kelas loh pas kenaikan kelas sebelas! Saat itu yang aku rasakan bukan terpuruk lagi! Bahkan rasanya aku berada dibawah timbunan arang yang siap di bakar dengan spiritus! Aku hancur! Aku kehilangan kendali diriku! Aku bermain dengan teman laki-lakiku, aku mencoba banyak hal yang mereka lakukan. Apa saja ma! merokok di sudut kantin, dikelas-kelas kosong, diwarung-warung, bahkan di rumahpun aku lakukan! Aku ikut balapan liar saat larut malam! Aku mencoba meminum minuman beralkohol seperti mereka. Aku melakukan semua yang ingin aku lakukan! Toh tidak akan ada yang perduli! Mama peduli?......”
            Saat itu juga, Ayah menghampiri kami. Aku masih mematung ditempatku. Ayah menarik punggungku dan kami bertiga berpelukan. Aku masih belum mengerti maksud semua ini! Kakiku benar-benar lemas. Dalam hitungan detik, aku hampir terjatuh. Sebelum kata-kata Ayah selanjutnya membuat langit runtuh dan semua disekitarku menjadi partikel-partikel terkecil sejagad! “mama sama ayah rujuk, sayang.” Bisik ayah sambil melepaskan pelukannya dan menatapku. Muka Ayah memerah, aku baru melihat mimiknya seperti itu lagi, setelah sebelumnya Ayah pernah memasang mimik seperti itu saat aku menang olimpiade fisika SMP lalu. Aku akui, ini yang aku inginkan saat harus mengingat kenangan pahit itu. “huuuuuuuuuuh.” Aku buang nafas. Aku menghirup udara lagi, aku mencari oksigen, aku mencari pertahanan tubuhku yang hampir hilang. “talak itu dicabut, sayang. Selama dua tahun ini status kami masih suami istri dan kami belum benar-benar melakukan talak.” Aku hampir menangis, aku tahan! Aku ingin kuat didepan mereka! Pura-pura kuat lebih tepatnya!.

Jumat, 11 Maret 2011

mendamba kembalimu

ini terlanjur salahmu
bila tarikan kenanganmu membuatku lupa akan dunia baruku
bahkan aku merindukanmu saat aku lupa raut wajahmu
dan aku tetap mendamba meski masa menghapus tiap detik bersamamu, dulu

sakit ini terlanjur merebah diatas namamu
saat aku terpaksa harus hidup dengan kilat senyummu
dan aku habiskan malam untuk berdoa kembalimu


aku bersembunyi ditumpukan arang yang siap dibakar dengan spirtus
aku mengais, mengiba agar rasa itu terbang bersama serpihan arang yang memutih
aku pura-pura melupamu, meniadakan hadirmu
aku menyadari,
semakin aku melakukannya, yang ada malah besarnya damba kembalimu

Kamis, 10 Maret 2011

hingga masa itu tiba

kau tak akan ingat kapan kau memujaku dengan kata-kata yang kau petik dari langit
dan kau menerjang raguku dengan belati yang kau letakan diatas cinta untukku

bahkan kau tak akan pernah mengingat
kapan hari saat kau buang aku
dan kau hina aku serendah-rendanya
kau juga tak akan menyadari
bagaimana rasaku yang gila menjadi hancur dan rapuh
aku tumpah ruahkan tangis dan kecewa kepada bulan yang menggantung dipetang
kau tak akan pernah dengar teriakan batinku yang meronta sakit dan pilu
kau tak akan pernah tau saat itu cintaku bak sumur yang menganak samudra

aku menunggu saat itu,
Saat masa memutar rasa kita
Barulah saat rasaku bagai ruang hampa yang gelap
Dan rasamu menjadi gila,
Aku akan merobek-robek dirimu
Menjadi partikel-partikel terkecil sejagad
Dan aku tebar dirimu dipojok parit-parit berlumut
lalu saaat itulah saatnya engkau merasakan
bagaimana ngilunya hatiku saat kau buang, dulu

Sabtu, 19 Februari 2011

hanya aku yg mau

16.2.11
dulu, tempat kuta bersama berdua diatas rumput hijau
menyelesaikan berjuta rumus lenyap dari rindu dan meluapkan hasrat bercinta
waktu itu, hanya milik kita dan bintang
aku dan bulan jadi saksi buruan nafasmu, desahan cintamu, bisikan janji setiamu

kini, aku sendiri diatas rumput hijau yang menjelma belukar hutan
menyisakan kenangan kecupanmu, dan derap kakimu menghampiri dan memeluk tubuhku dari belakang
andai waktu itu terekam oleh makhluk lain selain diriku
mungkin aku akan bawa ia kemari dan mempersilahkan ia bercerita tentang apa yang dilihatnya dulu.tentang kita, aku dan dirimu
dirimu yang kini pergi dan memohon beribu pemuja cinta lain untuk mencintaimu
sayang, hanya aku yang mau mencintaimu sepanjang usiaku

tanpa bersama

16.2.11
Lalu engkau akukan kemauanku
merangkul bahuku dan tarik jemariku
kita pergi entah kemana mengendara kasih dan rasa
tanpa tahu jalan pulang, sebab kita takan pernah pulang
takan pernah kembali ke ragamu, ragaku
kasih telah merasuk asa kita, membuang arti kesendirin

Kamis, 17 Februari 2011

aku ini

28.1.11aku bocah pengemis berkulit terbakar
demi sebutir jagung kuseret kaki yang hanya ada tulang beselimut kulit
demi setetes air, bberjuta duri menusuk kulit tanduk telapaku, aku hiraukan
demi kain tipis alas tidurku, cipratan ludah2 aku terima

aku
pengemis dibawah payung merahmuda
akan terus menyerat kaki hingga bertemu dengannya yang hilang
dibawah kafan putih dengan senyum,
ditinggalkannya aku sendiri dirumah berdinding kardus tanpa lampion
dan semangkuk sop hangat
Ibu, aku mencarimu, aku merindukanmu

Minggu, 30 Januari 2011

SAJAK UNTUK KEKASIH

jika hidup bersamaku
mengerdilkan segala makna;
sayatlah urat nadiku
dengan pisau
yang kusimpan di dadamu
antara hati dan jantung

sebab kematian lebih sempurna
dibanding cinta yang kosong

kau tak perlu mengikat tubuhku
di tiang ritus yang buram
mengekang gerak nasib
melayang-layang di mata kita
menjadi asap
atau kabut yang linglung

tapi kau mesti melihat;
di dalam hatiku
bayang wajah dan jiwamu
kekal bercahaya; menjadi kunang
menziarahi masa lalu
dan masa depan

kau membuatku gila
berlari-lari dalam hidupmu
memburu arti suci
dari kosong dan semesta
dari awal dan akhir;
merekam detak jantungmu

jika aku tak membawamu
ke lubuk sang matahari;
ludahi aku
biar waktu yang masih ada
sedikit basah oleh liurmu
dan aku yang tergoda
kembali tahu
bentuk surga dan neraka

2010

Sabtu, 08 Januari 2011

aku mau, DIRIMU

dari asa dan darah, menggumpal lalu aku hidup dan dapat bernafas
mempelajari rumus merasa dan rumus kepekaan
masa berganti masa dan waktu menyerretku kepercerahan dimana aku terperangkap olehmu,
hal fana yang dapat membuatku kini terpaku melihatmu yang melihatku-
lalu masa terus berganti menyeretku mengenal engkau
hal fana yang dapat membuatku berkorban-
disinilah demi cinta aku hidup demi cinta aku mau,dirimu-
(belum jadi tapi publish ajaya)

dekap ku dalam diam

diam yang kutanggap, lalu berhenti aku hilang arah..
tak ada lagi tawa,
sedetik kata itu, langit runtuh, awan hitam, lalu diam
kini diam yang kurenggut ternyata milik masa yang belum beranjak dari tempatnya
mengoleh2kan sebuah kecerian, milik aku dan dia dalam fana
aku ingin pergi lalu menghilang entah ditutupi pohon yang mana lagi
aku ingin lari lalu terjatuh tapi entah jurang mana yang mau ambil nafasku

kini aku diam
ada tawamu dalam tangis
aku kuat dan pura2 kuat

kini aku diam
ada tangan lembutmu dalam galau
aku bertahan dan aku tetap akan terus mencoba bertahan

aku berharap kini,
ada cerita buku dongeng lain yang mengisahkan aku dengan sebuah bayang nyata
dan berakhir dengan cinta yang kekal abadi adanya