Laman

Senin, 28 Agustus 2017

Untuk kedai kopi di Ujung pertigaan

Yang belum pernah aku datangi,
Tapi sepertinya menarik,
       lampu kuning yang menggantung,
       dan tambahan agar-agar didalam gelas yang tinggi.

Untuk kedai kopi di Ujung pertigaan,
Yang selalu sepi parkirannya,
Tapi temanku bilang, ramai antriannya.
Bolehkah aku kesana, sabtu malam ini?
Aku datang sendiri, mungkin jam 01:00 saja,
  biar sudah sepi antriannya.
  atau malah sudah mati juga lampu kuningnya?
Hehe, kalau begitu mungkin selasa pagi saja,
Aku datang sendiri, mungkin jam 06:00 saja.
  biar masih sepi antriannya.
  atau malah masih mati juga lampu kuningnya?

Untuk kedai kopi di Ujung pertigaan,
Jadi, kapan ya?
Waktuku sepertinya tak pernah cocok dengan punyamu.

Kamis, 24 Agustus 2017

02:16

Dia terbangun jam 02:16, pagi hari.
Menulis lagi nama yang sama dilangit-langit kamarnya.
Ia memanggil bintang-bintang untuk membawanya ke gelap malam.
"Aku salah" katanya dengan mata terpejam.
Dan ia tak terlelap lagi sampai pagi, takut terbangun dengan mata yang sayu.

Wanita itu menggelengkan kepalanya,
berkata lirih pada rindu, "Terimakasih..."
Juga akhirnya dia paham, ternyata rindu bisa juga pada seorang yang tak akan pernah ucapkan selamat tinggal.
Akhirnya dia berfikir, mana ada yang berani ketuk si rindu.
Mana pula ada yang mau buka pintu untuk hati, itulah sebab kadang orang memilu disudut kamarnya dengan tisu bertebar; karena hati, tak perlu menunggu di buka pintunya.

Pada hari ketujuh, dia (sebenarnya) melemas sebab takut bermimpi.
Pada hari ke lima puluh tiga, dia (sebenarnya) meragu sebab ternyata hati sudah jatuh terlalu dalam.
Pada hari ke delapan puluh satu, (sebenarnya) semenjak hari itu,
dia menghapus semua pesannya.
Ia tahu, rindu tak akan jadi apa-apa.

"Rindu hanya akan jadi rindu," jawabnya dalam hening.

Sabtu, 19 Agustus 2017

154

Bertambah dua lagi.
Wanita itu masih menghitung.
Berharap ini kali terakhir dia mengingat angkanya.
Berharap angka hari ini habis dan tak lanjut menghitung esok hari.

Ia kira, habis sudah angkanya tadi pagi.
Sedari malam ia bangun dan menunggu panggilan masuk.
Tak juga. Ia tertidur lagi.
Terbangun, menunggu lagi.
Tak juga. Ia tertidur lagi.
Dan bangun di esok paginya dengan mata sayu.

Harapnya habis pada tenggelamnya matahari.
Namun ternyata ia menghitung lagi di terang bulan,
dengan wanita itu menulis nama(nya) di langit-langit kamar.

Kamis, 17 Agustus 2017

152

Dia menghitung lagi, hari ini.
Belum habis juga rupanya si angka ini.

Wanita itu menggelengkan kepalanya tiap malam,
berkata lirih pada rindu, 'jangan, jangan..'
Juga pahamnya, mana bisa merindu pada seorang yang tak pernah ucapkan selamat datang?
Dia fikir, rindu butuh diketuk awalnya
Juga hati baru bisa merasa ketika dibuka pintunya.

Dia menghitung lagi, hari ini.
Belum habis juga rupanya si angka ini.

Dia melemas pada hari ke tujuh,
Dia meragu pada hari ke lima puluh tiga,
Dia menghapus semua pesannya pada hari ke delapan puluh satu,
Mana mungkin?
Mana bisa?
Mana mampu sekuat ini?
Tanyanya, pada dirinya.



Tapi hening, dia pun takut-takut menjawab.

Rabu, 28 Juni 2017

Pelipis-lantai

Aku bicara Rindu.
Pada sesuatu yang belum juga pernah aku rasa
Bukankah Rindu itu tentang jarak?
Kau merindu karena terpisah? Ya kan?

Tapi tidak, aku.
Merindu bahkan ketika sesuatu sangat dekat
Pelipis-lantai
Aku rindu mengadu
Menggumam hal pilu dihariku
Dan rindu,
bukan tentang jarak.

Tapi Rindu,
    tentang ikatan
    tentang ingatan.

Senin, 24 April 2017

Rindu.

Aku berangkat jam sepuluh pagi ini.
Tidak jalan kaki, ia bukan kesukaanku.
Bukan juga naik becak, jarakku 32kilo.

Hehe, diatas hanya intro.
Keadaan sebenarnya tentang rindu?
Aku berharap melupakannya.
Pura-pura tak measa, jika bisa.
Tiga puluh lima hari kuhitung.
Rasanya khayal aku melupakannya.
Melupakan hari yang bahkan aku ingat tiap harinya.
Tiap hari, dari pagi hingga malam.
Tiap hari, sehari tapi berhari-hari.
Tanpa henti.



Paragraf selanjutnya mungkin tidak perlu dilanjutkan.
Karena sampai akhir, hanya hitungan hari merindu yang kan kuhitung.
Tiga puluh enam hari

Tiga puluh tujuh hari

Tiga puluh delapan hari

Tiga puluh sembilan hari

Empat puluh hari

Empat puluh satu hari

Empat puluh dua hari

Empat puluh tiga hari

Empat puluh empat hari

Mungkin juga dihari ke-lima puluh?
Juga lima puluh satu?
Dan berakhir dibilangan yang tetap kuhitung.

Karena terkadang,
rindu tak akan habis hanya dengan temu;
Makan di resto ujung jalan,
Atau sekedar minum kopi di kedai berlambang dewi.
Bukan.

Namun terkadang,
Rindu akan habis penasarannya,
dengan kata atau rasa yang sama,
seperti..

                      "Aku juga rindu".

Sabtu, 15 April 2017

Orang yang dipenuhi rasa maaf,
Sejatinya akan hidup dalam keikhlasan.
Meski kadang luka sampai bernanah kuning.

Orang dulu bilang, maaf itu soal hati.
Ah, tidak juga.
Otak kok yang atur segalanya.
Tapi kadang hati memang ambil alih sih.
Ia jadi pembisik yang ditakdirkan mengganggu si otak.
Hidup jadi bimbang setelahnya.

Yaaaa..namanya juga manusia.
Akan terasa lucu, ketika aku melihat tempo lalu
dan yang ada hanya dua orang 'aku' berbeda.
Yang satu mengajari kemantapan,
yang satu bertekuk lutut pada keraguan.

Senin, 27 Maret 2017

Sembilan hari

Aku tak pernah benar-benar melihat matamu dari kedekatan.
Rasanya gerakku lebih cekatan, tapi hanya melihat punggungmu waktu itu.
Itu saja cukup,
Jangan pernah balikkan badan.
Aku tau kamu pasti gusar, bahkan risih tiada kepalang.
Tapi apa yang bisa ku lakukan selain membuntutimu?

Melihat punggung, seorang yang bisa buatku senyum seharian.
Seharian, dari pagi hingga malam.
Seharian, sehari tapi berkali-kali.

Kemarin aku bilang hampir seminggu.
Aku lupa, ternyata hari dimulai dari Minggu ketiga, bulan maret ini.
Kehidupan baru dimulai, yang lama masih ada, hanya tunggu giliran disudahi.
Benar-benar disudahi karena merasa tak di hargai, atau disudahi karena



apa?
isi sendiri