Laman

Kamis, 17 Agustus 2017

152

Dia menghitung lagi, hari ini.
Belum habis juga rupanya si angka ini.

Wanita itu menggelengkan kepalanya tiap malam,
berkata lirih pada rindu, 'jangan, jangan..'
Juga pahamnya, mana bisa merindu pada seorang yang tak pernah ucapkan selamat datang?
Dia fikir, rindu butuh diketuk awalnya
Juga hati baru bisa merasa ketika dibuka pintunya.

Dia menghitung lagi, hari ini.
Belum habis juga rupanya si angka ini.

Dia melemas pada hari ke tujuh,
Dia meragu pada hari ke lima puluh tiga,
Dia menghapus semua pesannya pada hari ke delapan puluh satu,
Mana mungkin?
Mana bisa?
Mana mampu sekuat ini?
Tanyanya, pada dirinya.



Tapi hening, dia pun takut-takut menjawab.

Rabu, 28 Juni 2017

Pelipis-lantai

Aku bicara Rindu.
Pada sesuatu yang belum juga pernah aku rasa
Bukankah Rindu itu tentang jarak?
Kau merindu karena terpisah? Ya kan?

Tapi tidak, aku.
Merindu bahkan ketika sesuatu sangat dekat
Pelipis-lantai
Aku rindu mengadu
Menggumam hal pilu dihariku
Dan rindu,
bukan tentang jarak.

Tapi Rindu,
    tentang ikatan
    tentang ingatan.

Senin, 24 April 2017

Rindu.

Aku berangkat jam sepuluh pagi ini.
Tidak jalan kaki, ia bukan kesukaanku.
Bukan juga naik becak, jarakku 32kilo.

Hehe, diatas hanya intro.
Keadaan sebenarnya tentang rindu?
Aku berharap melupakannya.
Pura-pura tak measa, jika bisa.
Tiga puluh lima hari kuhitung.
Rasanya khayal aku melupakannya.
Melupakan hari yang bahkan aku ingat tiap harinya.
Tiap hari, dari pagi hingga malam.
Tiap hari, sehari tapi berhari-hari.
Tanpa henti.



Paragraf selanjutnya mungkin tidak perlu dilanjutkan.
Karena sampai akhir, hanya hitungan hari merindu yang kan kuhitung.
Tiga puluh enam hari

Tiga puluh tujuh hari

Tiga puluh delapan hari

Tiga puluh sembilan hari

Empat puluh hari

Empat puluh satu hari

Empat puluh dua hari

Empat puluh tiga hari

Empat puluh empat hari

Mungkin juga dihari ke-lima puluh?
Juga lima puluh satu?
Dan berakhir dibilangan yang tetap kuhitung.

Karena terkadang,
rindu tak akan habis hanya dengan temu;
Makan di resto ujung jalan,
Atau sekedar minum kopi di kedai berlambang dewi.
Bukan.

Namun terkadang,
Rindu akan habis penasarannya,
dengan kata atau rasa yang sama,
seperti..

                      "Aku juga rindu".

Sabtu, 15 April 2017

Orang yang dipenuhi rasa maaf,
Sejatinya akan hidup dalam keikhlasan.
Meski kadang luka sampai bernanah kuning.

Orang dulu bilang, maaf itu soal hati.
Ah, tidak juga.
Otak kok yang atur segalanya.
Tapi kadang hati memang ambil alih sih.
Ia jadi pembisik yang ditakdirkan mengganggu si otak.
Hidup jadi bimbang setelahnya.

Yaaaa..namanya juga manusia.
Akan terasa lucu, ketika aku melihat tempo lalu
dan yang ada hanya dua orang 'aku' berbeda.
Yang satu mengajari kemantapan,
yang satu bertekuk lutut pada keraguan.

Senin, 27 Maret 2017

Sembilan hari

Aku tak pernah benar-benar melihat matamu dari kedekatan.
Rasanya gerakku lebih cekatan, tapi hanya melihat punggungmu waktu itu.
Itu saja cukup,
Jangan pernah balikkan badan.
Aku tau kamu pasti gusar, bahkan risih tiada kepalang.
Tapi apa yang bisa ku lakukan selain membuntutimu?

Melihat punggung, seorang yang bisa buatku senyum seharian.
Seharian, dari pagi hingga malam.
Seharian, sehari tapi berkali-kali.

Kemarin aku bilang hampir seminggu.
Aku lupa, ternyata hari dimulai dari Minggu ketiga, bulan maret ini.
Kehidupan baru dimulai, yang lama masih ada, hanya tunggu giliran disudahi.
Benar-benar disudahi karena merasa tak di hargai, atau disudahi karena



apa?
isi sendiri